Rebel (19)

Story by : Azi Satria

Episode 19 : Jika Tak Bisa Bertahan, Lari!

Lord Tequila menahan napas saat layar di depannya menampilkan sosok Black Steel melayang dan menuju bandara. Dengan tergesa, ia segera memberi komando pada pasukan militer disana untuk mundur.

---

Slashing Geni buka jubah kelabunya, lalu lemparkan ke tanah, menampakkan tubuhnya yang hitam seluruhnya. Rambut putihnya bergoyang tertiup angin dingin yang berhembus setelah tawanya berakhir. Pedang di kedua tangannya tampak berkilat-kilat seolah meminta korban baru. Sementara itu bola matanya yang merah berlatar biru tampak bergerak gerak.

Ahool kembangkan sayap bajanya, wajahnya menatap dingin pada ketiga orang dihadapannya. Wajah pucatnya tampak lebih seperti mayat, tangannya yang kekar putih itu mengelus sayapnya.

"King Grim milikku tidak hanya mencabut nyawamu, tapi meleburkan semua harapanmu. Matrix akan hancur. Sebagaimana hancurnya tubuh kalian oleh King Grim." kata Slashing Geni, lalu alirkan hawa sakti ke pedangnya, seketika pedang itu dikobari api yang menyala-nyala, jelaslah jika senjata mahluk hitam ini dinamai Pedang Raja Neraka.

"Bedebah sialan." maki Malaikat Genit Berkipas Sakti alias Timi.

"Bisakah kita mulai upacara kematian kalian? Waktuku tidak bisa dihabiskan untuk membunuh kecoak sialan macam kalian." kata Slashing Geni, lalu melompat dan hantamkan Pedang Raja Neraka ke wajah Timi.

Api dari Pedang Raja Neraka hampir mengenai wajah Timi dan bahkan menghanguskannya kalau saja ia tidak mundur dan bertahan dengan angin yang ia keluarkan dari kipasnya.

Tuan Flamingo cepat bergerak, ia hantamkan tangan kanannya ke punggung Slashing Geni. Tapi terlambat, kaki kanan mahluk hitam itu sudah lebih dulu menendang dada bidang Tuan Flamingo hingga tokoh silat ini mental dan jatuh menelungkup di tanah.

"Flamingo, kupikir kau sudah mati. Aku jijik dengan ikat kepala merah mudamu. Sebaiknya cepat-cepat mati saja kau!" kata Slashing Geni.

Tuan Flamingo bangkit, pegangi dadanya yang berdenyut sakit, lalu menyerang Slashing Geni dengan tangan kanannya, tapi diurungkannya ketika melihat api yang menyala-nyala di seluruh permukaan Pedang Raja Nereka.

Timi lalu arahkan kipasnya ke wajah Slashing Geni, lalu berkata "Jika saja kau seorang golden, mungkin aku dapat membunuhmu dengan kekuatanku, tapi sayang.. Huh.."

Slashing Geni terkekeh geli "Hahaha.. Tentu saja, aku bukanlah golden sampah mirip kalian."

Merahlah wajah Dewi Bunga Neraka, lalu bertanya pada Timi "Apa maksudmu kalau dia bukan golden?"

"Benar. Dia bukan golden. Dia utusan neraka." kata Timi serius.

---

Black Steel melayang turun, lalu meloncat ke atas dan hantamkan dua pukulan ke tubuh Si Tangan Gergaji hingga ketua sementara Matrix itu menabrak tembok bandara hingga amblas beberapa cm.

Dengan pekikan marah, golden bermata kuning berjuluk Krip Kuning itu serang Black Steel dengan belatinya. Namun sayang, belatinya hanya mengenai tempat kosong karena Black Steel bergerak begitu lincahnya.

Hingga Black Steel tendang dada Krip Kuning sampai golden Matrix itu mencelat mental dan pegangi dadanya yang berdenyut sakit.

"Dengarkan aku. Matrix akan hancur." kata Black Steel sambil tangannya dikepalkan.

Si Tangan Gergaji bangkit dengan terhuyung, ia mencoba menyerang, tapi hanya menyentuh udara kosong. Karena Black Steel segera tendang kembali tubuh Si Tangan Gergaji ke lantai.

"Pranggg!!!"

Serpihan kaca mengenai punggung Black Steel, ia menengok ke belakang. Dimana sesosok manusia bersayap lebar tersenyum sinis padanya.

"Siapa bajingan satu ini?" tanya Krip Kuning, lalu hampiri Si Tangan Gergaji.

"Master Angel."

---

Ketika mobil itu memasuki area bandara, puluhan militer bersenjata menyerbu rombongan Golden Nation itu.

"Serang?" tanya Gitaris Asmodeus.

Pendekar Tangan Baja yang kendalikan kemudi menjawab "Tak usah. Kita takkan dapat uang dari bangkai mereka. Palingan ngemis senjata.>

Dengan lincahnya mobil sport itu dikemudikan dengan menabrakkannya pada tentara yang menembakkan senjata api ke badan mobil anti peluru yang dikemudikan Pendekar Tangan Baja.

"Ckitt"

Dengan didahului decitan keras, Pendekar Tangan Baja melakukan drift dan menabrakkan mobil pada para tentara sampai beberapa kali putaran.

Setelah puas menabrak para tentara itu, ia memacu mobil dalam kecepatan tinggi dan masuk ke bandara setelah menabrak kaca.

---

"Black Steel. Sejak kapan kau bisa melayang? Tapi cukuplah kau melayang tiga cm di bawahku." kata Master Angel, sayapnya yang lebar bergerak-gerak.

Black Steel menatap tajam pada wajah Master Angel, orang yang sering ia lihat di daftar musuh saat ia berada di Matrix.

"Beruntung sekali Paw sudah mati. Sehingga aku hanya melawan orang-orang goblok macam kalian." kata Master Angel diakhiri tawa bergelak.

"Cih. Kau pikir dengan enam malaikat cupu itu bisa melawanku?" tanya Black Steel.

"Sombong sekali kau. Kita lihat apa yang dapat kau lakukan." kata Master Angel, lalu ketua Golden Nation ini jentikan jarinya.

"Trakkk.."

Melotot Si Tangan Gergaji dan Krip Kuning saat melihat lempengan baja di bahu kiri Black Steel retak, mengelupas, lalu jatuh ke lantai hingga membuat lantai itu retak.

"Dia bukan lawan kita.." gumam Krip Kuning. Belum usai si mata kuning ini berkata, Si Tangan Gergaji sudah berlari keluar untuk menghindari pertempuran.

"Sialan." maki Krip Kuning.

Melihat dua Matrix itu keluar, Master Angel geleng-geleng kepala, lalu berkata "Sayang sekali.. Padahal aku ingin mencincang mereka."

Black Steel hantamkan tinjunya ke wajah Master Angel, namun Master Angel berkelit dan hantam balik perut Black Steel dengan sayapnya hingga golden berlapis baja itu mental dan hampir menabrak dinding.

Master Angel kernyitkan kening. Harusnya si manusia baja itu sudah hancur isi perutnya atau merobohkan dinding.

Dengan penuh amarah, Black Steel bangkit dan serang Master Angel dengan tinjunya, namun serangan itu ditangan dengan tangan kiri Master Angel dengan mudahnya.

Keringat membasahi sekujur tubuh Black Steel. Kekuatannya ditambah kekuatan Badjingan pun masih mampu ditahan oleh Master Angel. Satu tangan lagi.

---

Gitaris Asmodeus keluar dari mobil saat melihat puluhan orang berseragam hitam biru di depannya. Lalu dengan penuh kebanggaan, pemuda ini usap rambut emonya dan mengatur beberapa tombol di gitar. Ketika salah seorang Matrix mendekat, ia memetik senar gitar.

"Bummm!"

Hawa panas berhembus dan membuat anggota Matrix itu mencelat mental dan tengkurap tak sadarkan diri.

Bidadari Mati keluar dari mobil dengan Hydra. Perempuan muka pucat ini lalu angkat dua tangan ke langit. Seketika awan berkumpul menjadi awan hitam besar. Pasukan Matrix mulai menyerang rombongan Golden Nation itu.

Didahului pekikan keras, Bidadari Mati pukulkan dua tangan ke depan, dari langit kemudian jatuh rintik-rintik air hujan, yang kemudian membesar menjadi hujan deras. Bidadari Mati gerakkan tangannya, air itu kemudian membelok dan menyerang ke titik dimana Matrix berada.

Hydra yang ahli berperang dengan melibatkan air langsung manfaatkan kesempatan, ia melesat ke depan, lalu berikan pukulan-pukulan mematikan ke para anggota Matrix. Banyak yang roboh terkapar.

"Berpencar!" teriak Si Tangan Gergaji. Orang gendut bertangan gergaji itu berlari dengan susah payah membawa perut buncitnya.

"Orang itu.." gumam Hydra.

"Crass!"

Darah membasahi bumi. Bercampur antara darah Si Tangan Gergaji dengan air hujan.

Tangan berbentuk gergaji mesin itu jatuh ke tanah. Darah membanjir, begitu pula dengan jerit kesakitan Si Tangan Gergaji yang meraung pegangi tangan kanannya yang buntung sebatas sikut.

Hydra melihat puas pada pedangnya yang berlumuran darah Si Tangan Gergaji. Tawa terdengar dari dalam topengnya.

Si Tangan Gergaji melotot geram, tapi tak mampu ia membalasnya dengan tangan kiri. Lantas ketua Matrix ini berlari tunggang langgang kemanapun yang dapat ia capai.

Pertempuran semakin sengit setelah Gitaris Asmodeus menggorok leher agen Matrix dengan senar gitarnya. Sontak, semua anggota Matrix kocar kacir tak tentu arah.

"Tak perlu kau kejar." kata Pendekar Tangan Baja, lalu bersihkan sisa organ dalam manusia dari tangannya.

Gitaris Asmodeus memandang langit, kemudian berkata "Sayang sekali, padahal pertunjukan orkestra epik baru saja berlangsung."

Air hujan membasahi tubuh para anggota Golden, membasahi mayat-mayat anggota Matrix yang menghampar bak zebra yang diserang kawanan singa. Terkadang hidup memang sulit, tidak selamanya hidup bisa dinikmati semulus jalanan tanpa macet.

---

Slashing Geni berlari seolah hendak menghindari pertempuran, tapi ia berbalik dan serang Timi dengan penuh rasa muak. Bola matanya yang biru tampak dikobari api kebencian.

Tapi..

Begitu Pedang Raja Neraka hendak menyentuh leher Timi, kecepatannya berkurang hingga Timi berhasil mundur dan balas serangan Slashing Geni dengan tendangan ke wajah.

Golden bertubuh hitam itu jatuh terjungkal dengan punggung menghantam tanah.

"Keparat kau!" Slashing Geni menggembor marah.

Ahool lebarkan tangan, sayapnya mengembang, matanya menatap tajam Tuan Flamingo. Tokoh silat itu mulai merasa takut, keringat dingin mengucur, apalagi tendangan Slashing Geni telah membuat dadanya berdenyut sakit.

Ahool mengucap mantra, entah apa. Tiba-tiba muncul lingkaran dengan segitiga di dalamnya, lingkaran itu melayang di atas kepala Tuan Flamingo.

"Dasar penganut Pagan bajingan!" maki Timi, setelah menyadari bahaya datang, ia mundur dan ajak Dewi Bunga Neraka mundur.

Tiba-tiba lingkaran bercahaya hitam itu turun dan menyelimuti seluruh tubuh Tuan Flamingo. Dewi Bunga Neraka pandangi kejadian di depannya tanpa berkedip.

Tuan Flamingo yang diselimuti cahaya hitam itu mulai memudar, lalu berubah kulitnya menjadi merah dan melepuh. Lelaki itu berteriak keras saat ia merasakan panas luar biasa disertai rasa sakit amat dalam. Matanya sudah tak mampu lagi melihat bagaimana kulitnya melepuh dan mengelupas. Darah membanjir dari daging tubuhnya yang menebar bau busuk luar biasa.

Bersambung..

Komentar

  1. Di tunggu kelanjutannya pak. Badjingan dan Master Angel jagoan saya hehehe

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer