Black Hack Squad : Double Agent 4 | Azi Satria
*
Tangerang, Indonesia.
Baru 2 tahun gedung ini berdiri. Gedung yang menjulang tinggi dengan nama 'Asian Organization for Future Research' itu milik pemerintah. Tadinya daerah itu adalah perumahan. Tapi setelah lengsernya presiden Ali Mubarok dan digantikan oleh Anwar Zaki, berbagai inovasi baru diluncurkan. Beruntung, Anwar merealisasikan semuanya, bukan hanya omongan saja.
Berbagai perusahaan telah berinovasi untuk menciptakan teknologi-teknologi masa depan. Tak heran jika para investor asing berbondong-bondong menanamkan modal di Indonesia. Selama beberapa bulan saja semenjak Anwar jadi Presiden, para pemimpin negara di Asia dengan cepat memberikan respon positif. Maka, dibuatlah ASFRE, Asian Organization for Future Research.
Tampak luar, gedung ini dijaga ketat oleh militer berseragam biru tua dengan topeng menutupi wajah.
---
Ruangan Kepala Dewan ASFRE.
Pria itu duduk dengan dua tangan di lutut. Kepalanya yang botak plontos tampak mengkilap tertimpa cahaya lampu yang dipasang di seluruh permukaan atap. Wajah lelaki ini tampak serius, urat-urat tampak menegang di keningnya.
Matanya berkilat-kilat saat melihat seorang lelaki tua berkacamata masuk ke ruangannya.
"Maaf. Kursi hanya satu, dan kesalahan teknologi kaki kuda telah melumpuhkan kakiku." kata pria setengah baya yang berkepala botak itu.
Lelaki tua berkacamata tersenyum, lalu berkata "Untuk berada di depanmu saja, aku sudah senang Tuan."
"Trung, dari masih jadi pelayan sampai kau jadi asisten Dewan Vietnam untuk ASFRE kau tetap rendah hati. Hahaha.." pria botak itu merapikan dasi birunya.
"Tak usah memujiku, Tuan Antonius." lelaki tua itu tampak malu dipuji demikian.
Antonius, pria botak asal Maluku itu tersenyum puas, kemudian bertanya "Ada apa gerangan kau menemuiku?"
"Sebenarnya begini, Tuan. Beberapa waktu lalu jaringan ASFRE terkena gangguan, namun kami dapat segera mengatasinya. Tapi bukan itu yang membuat saya tertarik mengetahuinya lebih lanjut. Setelah jaringan ASFRE mengalami kendala, dua negara yakni Malaysia dan Korea Utara mengajukan permohonan dan meminta bantuan agar melacak perusuh, ya, kedua negara itu mengalami kerusakan jaringan." jelas Trung.
Antonius masih terdiam. Trung menatap dalam pria itu, seolah tak sabar menginginkan jawaban keluar dari mulut Antonius.
"Kenapa mereka mengajukan permohonan pada ASFRE? Itu kan urusan negara pribadi." Antonius berkata.
"Tidak, Tuan. Masalah pada jaringan ASFRE,Korea Utara, dan Malaysia sama. Seluruh sistem prakiraan cuaca, penerbangan, dan website penting down." Trung menatap lekat Antonius.
"Kenapa kalian tidak memberitahuku atau Kepala Dewan negara lain?"
"Kami mempertimbangkan dahulu semuanya, dan sekarang maksud saya kesini adalah untuk mengajukan bantuan penelitian dan pengumpulan data tentang Devil Triangle."
Antonius tampak terperanjat saat mendengar Devil Triangle. Pria ini kemudian menjawab "Kita tidak akan bisa melacak mereka. Pengajuan bantuan kutolak. Aku tak mau ASFRE ikut dalam kegiatan berbahaya."
"Tapi, Tuan. Semua pekerjaan ada resikonya."
"Tidak. Ini membahayakan ASFRE. Kau tidak tahu Devil Triangle."
"Mereka telah gagal menyusup ke gedung WEC."
"Dengarkan aku, Devil Triangle tidak pernah gagal, dan kurasa pernyataanku mutlak."
"Sosok tubuh manusia ditemukan di dalam gedung WEC di Korea Selatan, ditemukan juga beberapa buah peralatan berteknologi tinggi. Dia menyusup dan merusakan sumber energi Korea Utara, beberapa penjaga dibunuh. Yang menarik, peralatannya tampak seperti buatan kita, seperti kloningan."
"Hahahaha.. Darimana kau tahu mayat itu dari Devil Triangle?"
Trung terdiam. Tampaknya Antonius menang kali ini.
"Biarkan saya menghubungi pihak Korea Utara untuk membawa mayat itu kesini." kata Trung mantap.
---
Bombang merasakan sakit luar biasa saat tangan si rambut panjang mencekik lehernya. Matanya melotot, lidahnya terjulur kehabisan napas.
"Sekali lagi bertingkah, kuputus lehermu." bentak si rambut panjang, lalu lepaskan cekikannya.
Bombang hembuskan napas lega, terlihat wajahnya memerah. Air matanya yang tak terasa mengalir mengucur ke dagu.
"Sekarang katakan, kau tahu mengenai kami?" tanya si rambut panjang membentak.
"Tidak."
Bombang segera mengulang lebih keras saat si rambut panjang kepalkan tangannya.
"Dimana markas kalian?"
"Dengarkan, bung, aku hanya anak buah seorang anak buahnya anak buah dari anak buahnya anak buah anggota inti Anonymous." kata Bombang.
"Siapa atasanmu?"
"Alangkah baiknya kau memberiku hadiah terlebih da-"
Belum usai Bombang berkata, si rambut panjang sudah mencengkram leher dan dagu Bombang.
"Kuberi kau hadiah tiket ke neraka." maki si rambut panjang, taring panjang di giginya seolah hendak mengoyak Bombang.
"Ba.. Baiklah.."
Si rambut panjang lepaskan cekikannya.
"Seorang dengan nick Troya. Aku tak tahu nama aslinya - tapi setiap hari selasa ia mengirimku surat untuk melakukan defacing." kata Bombang.
---
Ruang Penelitian, ASFRE.
Antonius memandang geram pada Trung. Lelaki tua itu hanya bisa menunduk. Di hadapan mereka terbaring mayat yang ditemukan di WEC, ya, mayat Aziz Malik.
"Kau bilang ini mayat Devil Triangle?" tanya Antonius geram.
"Maaf, Tuan."
"Baik, musnahkan saja."
"Tuan, kalau boleh, kami akan gunakan sebagai uji coba."
"Uji coba apa?"
"Ujicoba untuk program Sakral v0.8. Kami akan mencoba menghidupkan kembali orang ini serta menanamkan serum Phoenix ke tubuhnya."
"Serum Phoenix? Aku baru dengar."
"Dengan Phoenix, manusia akan mendapatkan kekuatan tahan terhadap api, sel manusia akan dirubah dengan dimasukannya bakteri Phoenamblis, bakteri yang tahan terhadap suhu tinggi. Bakteri ini ditemukan NASA di Merkurius dan kami beli dari mereka $1.500.000 untuk 5 bakteri."
"Itu pemborosan namanya."
"Tidak, Tuan. Setelah Sakral v.08 berhasil, saya akan meluncurkan teknologi baru, serum Phoenix akan dijual $100.000.000 per orang."
"Terserah kau saja lah, dan soal Devil Triangle, jangan diungkit-ungkit lagi."
---
Malam ini begitu kelam. Kesunyian yang menyelimuti tempat itu seolah membekukan lidah keempat orang yang berdiri di ujung hutan.
Keempat orang disana adalah Lana, Zero, Eisel, dan Jimmy. Mereka diam termenung dengan koper di masing-masing tangan kanan mereka.
"Ingat. Tujuan kita adalah memberi sinyal untuk Devil Triangle. Ikuti aku." Zero kemudian berjalan paling depan, masuk ke dalam hutan melalui jalan setapak dengan rumput liar di kiri-kanan mereka.
Suara burung hantu menambah keseraman malam. Lana mengusap tengkuknya ketika mendengar suara burung hantu.
Kurang lebih tiga puluh menit mereka menempuh perjalanan untuk sampai ke tengah hutan dimana terdapat lahan kosong tak ditumbuhi rumput atau tetumbuhan.
Zero menurunkan kopernya, lalu membukanya, diikuti ketiga lainnya. Mereka mengeluarkan proyektor dari dalam koper.
Jimmy menyalakan proyektor portable itu, lalu mengarahkannya ke langit, ketiga lainnya melakukan hal yang sama. Lana menyalakan laptop, lalu membuka gambar Devil Triangle.
Keempat proyektor itu kemudian menampilkan logo merah Devil Triangle. Melesat cahaya merah itu jauh ke atas langit.
"Proyektor macam apa ini?" tanya Lana heran.
Zero tertawa kecil "Mungkin kau harus sering melihat-lihat peralatan Black Hack Squad lebih banyak."
Belum 5 menit logo itu tampil di langit Moskow, Eisel ditelepon oleh Pin.
"Radar menunjukkan jika dua benda menuju ke arah kalian." kata Pin.
"Benda seperti apa?" tanya Zero.
"Entahlah. Tapi benda itu seolah hendak menyembunyikan diri dari pantauanku. Terhubung dengan internet. Kecepatannya 100m/s."
"Siapkan pistol kalian." kata Zero, lalu keluarkan revolver otomatisnya.
---
Pemuda berambut kuning itu menatap layar di depannya. Dua layar menunjukkan kondisi daerah yang gelap gulita.
Prince Vassago. Begitulah nama si rambut kuning. Berdiri dua orang asistennya di belakangnya. Prince Vassago baru saja menyuruh bawahannya mengirimkan drone untuk memantau logo merah di hutan di selatan Moskow.
"Drone apa yang kalian kirim?" tanya Prince Vassago.
Sang asisten menjawab "Hawk 38 dan Iron Garuda."
"Iron Garuda? Buatan Indonesia?"
"Ya, Pangeran."
"Kenapa tak pilih yang sudah mendunia saja?"
"Kami sudah mempertimbangkan hal itu. Indonesia kini sudah layak diacungi jempol."
Prince Vassago masukkan tangannya ke saku.
"Kirim 12 lagi. Kirim tipe Mini-Eagle untuk mengurung area, jika terlihat ada yang mencoba kabur, tembak saja." perintah Prince Vassago.
Kamera drone menampilkan empat orang manusia berjas rapi dengan dasi hitam dan proyektor portable menyala di dekat mereka.
Prince Vassago tersenyum sinis, lalu berkata "Ledakkan Hawk 38 dan Iron Garuda di dekat mereka."
Setelah menerima perintah, kedua orang asisten segera menjalankannya. Tak lama berselang, layar mati. Tapi ada sesuatu yang memercik sebelum layar mati. Percikan darah!
Bersambung..
- Tambahan
Sekedar tambahan informasi. Bagi yang tidak tahu drone, bisa klik link wikipedia ini untuk penjelasannya. Untuk yang saya maksud di cerita ini adalah drone yang sering dipakai untuk menangkap gambar di tempat yang sulit berukuran mini.
Ada yang ingin ditanyakan? Punya saran cerita? Ingin memberi kritik atau ngobrol dengan saya? Silakan klik tautan Ini.
FPnya nanti ya sob, undang banyak teman aja biar rame fpnya. Paling gak sehari tambah 100. Makin keren ceritanya, hebat ya devil triangle keren. Tapi nanti mungkin kalah sama si lana :D
BalasHapusWaahaha, makin seru gan.
BalasHapusEnte memajukan Indonesia ternyata dalam cerita ini.
Saya masih menikmati alur cerita ini, dan belum bisa memberi komentar, nunggu sampai cerita selesai.
BalasHapus