Black Hack Squad : Double Agent 5 | Azi Satria
Black Hack Squad : Double Agent 5
Azi Satria
*
Zero Bond berdiri, lalu siapkan pistolnya ketika ia mendengar suara di udara. Jimmy sudah ketahui mereka diserang, maka dengan segera ia siapkan dua revolver di tangannya.
"Lihat!" kata Lana sambil menunjuk dua pesawat mini yang diam mengawasi mereka.
"Awas!" Eisel melihat lampu merah berkedip di badan pesawat, lampu penghancuran.
Dua pesawat itu terbang cepat menuju keempat agen BHS, kemudian tanpa mereka sempat mengelak, kedua drone itu meledak.
"Duarr! Duarr!"
Lana meraung keras. Tangannya terputus sampai sikut. Wajahnya memucat, pandangannya kabur, hingga ia tidak mengetahui apa-apa lagi setelah itu.
---
Wajah Trung tampak menegang, ia memperhatikan keempat pekerja lab itu menjepitkan dan menyuntikan selang ke dada, kaki, dan tangan mayat Aziz Malik.
Dengan penuh kehati-hatian, selang yang menyambung dengan tabung berisi cairan merah menyala itu disuntikkan ke tubuh Aziz.
Para pekerja itu mengecek denyut jantung mayat. Tidak ada tanda-tanda kehidupan. Trung sudah mulai berkeringat, apalagi para pekerja, mereka dengan cemas menunggu jantung mayat berdenyut.
"Pak, tampaknya mayat sudah lama meninggal. Kami tidak dapat membuat ia hidup kembali, sel cadangan di tubuhnya tidak bereaksi dengan serum Phoenix." kata pekerja itu dengan nada menyerah, seolah ingin segera mengakhiri pekerjaannya.
Trung membentak "Seberapa lama pun ia menjadi bangkai, sel tidak akan mati. ASFRE tidak menganut paham para ilmuwan gila di luar sana, kita punya penelitian sendiri, kita punya teori sendiri. Phoenix akan menarik sel-sel manusia sehingga manusia bisa hidup kembali. Sel manusia tidak mati, mereka tertidur. Dosis lebih banyak!"
Pekerja itu memutar tombol, memasukkan dosis tinggi Phoenix ke tubuh Aziz. Satu menit.. Dua menit.. Lima menit.. Sepuluh menit.. Lima belas menit berlalu dan Aziz masih tidak bergerak.
Trung memandang cemas, jarinya diketuk-ketuk ke tabung kaca. Waktu berlalu, bakteri Phoenix sudah masuk ke tubuh Aziz, tapi tiada reaksi apa pun.
Para pekerja mulai tak sabar menunggu. Mungkin saatnya mereka menganut teori umum : "Yang mati Tidak akan Hidup kembali." tapi rupanya takdir berkata lain.
Jari Aziz tampak bergerak, denyut jantungnya pun sudah dapat terdeteksi walau lemah. Trung terlonjak dari tempatnya, ia menghampiri meja penelitian. Mata Aziz mulai terbuka.
Aziz menatap heran pada lima orang yang mengerubunginya. Mulutnya hendak dibuka, walau rasa mual amat sangat menyesakkan dadanya. Pelan namun tajam, ia mengucap satu kata pertamanya "Sialan."
---
Antonius mengusap bibirnya yang basah oleh kopi yang baru saja ia minum. Tangannya menggenggam telepon.
"Apa benar kau memerintah seseorang untuk masuk ke WEC?"
"Benar sekali."
"Bodoh. Kau hendak membocorkan identitas tampaknya."
"Tenang saja Tuanku, aku tidak mengatasnamakan kita."
"Mayatnya ada di ASFRE sekarang."
"Untuk apa ia ada disana?"
"Bahan uji coba. Tampaknya akan ada hal besar di luar dugaan kita terjadi. Segera keluar dari sana dan bergabung dibawah komandoku."
"Siap, Tuan."
Pria itu tersenyum kecil saat menutup teleponnya, lalu menjalankan kursi rodanya. Kursi ini tidak dijalankan manual, tapi menggunakan pikiran.
---
Bombang merasakan kerongkongannya panas luar biasa. Hampir dua hari ia dikurung tanpa diberi makanan. Perutnya sudah protes menginginkan makanan. Tubuhnya sudah lemas dan matanya sayu. Wajahnya pucat bak mayat.
Pintu terbuka. Muncul seorang perempuan dengan pakaian serba merah. Wajahnya tak menunjukkan keramahan.
"Dengar. Aku lebih baik dibunuh sekarang juga daripada harus bicara lebih banyak." kata Bombang.
"Red Cat." kata perempuan itu, lalu membuka borgol tangan Bombang.
"Red Cat? Aku lebih suka memanggilmu Panda Merah, sayang," kata Bombang sambil menyipitkan mata, mengejek Red Cat. (*Note : Buat yang belum tau, Panda adalah julukan kasar untuk orang bermata sipit/chinese, biasanya ditujukan untuk perempuan nakal.
"Diamlah atau kumasukkan uranium ke mulutmu." maki Red Cat atau Natalia, ia kemudian berjalan ke luar "Ikuti aku."
"Hey, aku dibebaskan?" tanya Bombang.
Natalia berjalan ke ruangan tempat disimpannya senjata-senjata yang kebetulan berada di samping ruangan interogasi. Dengan penuh rasa heran meliputi pikirannya, Bombang mengikuti Natalia.
Mereka memanjat melalui tangga besi darurat. Tangga itu terdengar berderit ketika kaki mereka menginjak lempengan besi yang mulai karatan.
Mereka akhirnya sampai di selokan bawah tanah Moskow. Air selokan yang berwarna hijau itu mengalir menebarkan bau busuk amat sangat memenuhi selokan. Bombang berkali-kali hendak muntah.
"Asal kau tahu, got di Jakarta lebih busuk." kata Natalia.
"Memang kau pernah ke Indonesia?"
"Tentu saja. Bahkan aku menemukan belasan koper berisi uang dibawah tanah Indonesia, dan aku membawanya."
"Tak ada yang menuntut?"
"Kau kira bakalan ada hakim yang menyetujui pelaporan kehilangan uang di selokan?"
Bombang terdiam. Ia kemudian mengikuti Natalia memanjat tangga bawah tanah. Terasa agak licin ketika kaki mereka menginjak lumut.
"Kemana kita?" tanya Bombang.
"Kemana saja. Beruntung kau kubebaskan dari sana." jawab Natalia setengah mengomel.
"Kaukah Troya?" tanya Bombang.
"Siapa itu?" balik bertanya Natalia.
"Atasanku." jawab Bombang.
Natalia menghirup udara segar walau terasa agak panas. Udara bandara Internasional Moskow. Bombang menghempaskan tubuhnya di tembok bandara. Dua kotak kayu besar mengapit tempat mereka keluar sehingga mereka bebas tidak terlihat oleh orang lain di bandara.
Natalia menyeret tangan Bombang.
"Dengarkan aku, panda, aku lapar.. Kau setega itukah?" kata Bombang memelas sambil berusaha berdiri.
"Nanti kita makan." kata Natalia.
Mereka berjalan menuju ke dalam bandara. Lalu menunggu sampai jam keberangkatan tiba.
---
Terra Carter cemas karena sudah setengah jam dia dan Pin belum mendapat kabar tentang Zero dkk.
"Bagaimana jika aku lapor pada yang lain?" tanya Terra.
Pin tampak tegang, ia kemudian menghubungi Pietro Stevan, pemimpin utama di tim inti peretasan.
"Pietro."
"Ada apa?"
"Tim asramaku, aku kehilangan kontak."
"Sudah kubilang kan, kami juga masih menduga-duga apa tujuan Devil Triangle meretas dokumen Kremlin. Dan kini mereka mengeluarkan sinyal seolah ingin cepat mati."
"Kita tidak bisa berlama-lama diam. Kita harus menemukan mereka dengan cepat. Makanya kita kirim tim asramaku kesana."
"Baiklah. Apa yang kau perlukan?"
"Kirim mini drone untuk memantau keadaan mereka."
"Oke oke, kau kesini saja. Aku sedang mengomando penelusuran Devil Triangle."
Pin menutup teleponnya, memandang Terra, lalu beranjak pergi diikuti gadis itu.
---
Prince Vassago memandang keluar melalui kaca mobil Porschenya. Matanya tak henti menatap kesibukan warga Jakarta. Ia baru saja turun dari pesawat eksklusif Malaysia.
Sopir pribadi sang pangeran mengeluarkan sebatang rokok dari saku jasnya, hendak menyulutnya.
"Buang rokokmu atau kubunuh kau disini." kata Vassago sambil menatap tajam sopirnya yang ketakutan.
Sang sopir kemudian membuang rokok lewat jendela. Masih dengan penuh rasa heran kenapa ia dilarang merokok oleh sang pangeran, sopir itu mengemudikan mobil dengan pelan.
"Kau tahu, aku tidak berTuhan." kata Prince Vassago.
Sang sopir tampak tidak terkejut, karena memang syarat menjadi pemimpin Devil Triangle haruslah tidak berTuhan atau atheis.
Prince Vassago melanjutkan "Aku tidak menghormati Tuhan selayaknya kau. Kau beruntung, Tuhan bisa menyelamatkanmu. Sebagai gantinya, aku menghormati diriku sendiri, aku tidak suka merokok, itu merusak tubuh sendiri. Artinya aku merusak kepercayaanku. Kau harusnya lebih sadar, tubuhmu itu milik Tuhanmu, jangan kau rusak."
Sopir itu tampak terkagum-kagum dengan perkataan seorang atheis yang juga pemimpin kelompok terjahat itu.
"Kau lihat negara ini? Polusi memenuhi hampir setiap inci tempat ini. Udara, air, tanah, semua tercemar. Tak lama lagi Indonesia akan hancur, alam akan marah." kata Prince Vassago menerawang jauh.
Sopir itu segera berkata "Tapi alangkah beruntungnya mereka yang masih tinggal di alam. Aku pernah ke Sulawesi, Pangeran. Disana masyarakatnya masih bersatu dengan alam, alam yang bersih."
"Kalau aku baru lima kali ke Indonesia. Iya, memang begitu. Yang hidup di alam sering dianggap kampungan dan terbelakang, padahal yang kampungan itu yaa.. Yang hidup di perkotaan, menebarkan benih-benih polusi ke alam ini." kata Prince Vassago.
---
Di pekatnya malam, belasan drone itu terus menembaki keempat orang agen Black Hack Squad yang berusaha keluar dari hutan.
Eisel seret Lana yang kehilangan tangan kirinya. Ranting dan dahan tidak dipedulikan, duri yang menancap di kaki tidak dihiraukan, mereka ingin segera keluar dari hutan.
Tiba-tiba satu per satu drone itu meledak dan jatuh ke tanah!
Zero dkk berhenti, lalu melihat ke langit. Melayang dengan gagah lima buah drone berwarna hitam dengan senjata laser terpasang di badan pesawat.
"Kami selamat!" teriak Eisel.
---
Terra peluk tubuh Pietro ketika layar menampilkan keempat agen itu dan Eisel mengatakan selamat.
"Kita harus segera bergerak." kata Pin serius.
"Tentu, itu membuktikan jika Devil Triangle memang sudah siap berperang." kata Pietro.
---
Pesawat Russia itu mengudara dengan gagah di angkasa. Membelah langit dengan gagahnya setelah sebelumnya pesawat itu tidak bisa mengudara karena adanya peretasan jalur penerbangan.
Bombang duduk dengan Natalia di dekat jendela.
"Kemana kita pergi?" tanya Bombang.
"Indonesia."
"Untuk apa? Mengantarku pulang?"
"Tutup rapat mulutmu. Kalau bisa kujatuhkan kau dari sini." gerutu Natalia yang disambut gelak tawa Bombang.
"Kau secara resmi kuangkat sebagai anak buahku, aku satu tingkat dibawah Wakil Dewa." kata Natalia.
"Sudah kuduga... Kau Anonymous juga.." kata Bombang.
Natalia mengusap pipi Bombang dengan lembut, lalu berkata "Sebenarnya aku ingin menendang pantatmu ke bawah sana. Maka, diamlah!"
Bombang terdiam. Tapi terdiamnya Bombang membuat Natalia tersenyum geli, lalu mencubit hidung Bombang "Bodoh! Bodoh!"
Bombang terkikik geli, kemudian balas menggelitik pinggang Natalia. Mereka hanyut dalam kesenangan, kesenangan sesaat, karena mereka tak tahu apa yang akan terjadi. Begitu pula kita di dunia, hanya Tuhan yang mengatur takdir dan alur cerita kehidupan kita.
Bersambung..
Halloha readers! Terima kasih banyak sudah membaca cerbung Black Hack Squad ya!
Oh ya, buat yang penasaran wajah Antonius, kurang lebih mirip begini lah, :D iya, mirip wajahnya Francis di film Deadpool.
Oh ya, ide ASFRE saya dapatkan dari pusat penelitian CERN yang berada di Jenewa, Swiss.
Oh ya, rencananya setelah Double Agent saga ini selesai, saya mau menggarap cerbung lain dengan tema kriminal dan kejahatan, tapi masih terhubung dengan Rebel dan Black Hack Squad.
Mantap master, di tunggu lanjutanya. Cerita kriminalnya di tunggu. Wajahnya antonius keren botak nya pas. Udah ada pesan moralnya.. Ada rohaninya dikit hhh, keren lanjutkan
BalasHapusKunjungan Malam Gan!
BalasHapusNice Post :)
BlogWalking Dullu. Sambil Ngupi...
Ada serum untuk menghidupkan mayat, jadi ngeri ya :) benar tuch kata prince tubuh kita milik Tuhan jadi jangan dirusak seenaknya, kadang atheis berpikirnya lebih arif daripada orang yang beragama :D
BalasHapusbenerlah indonesia memang kays
BalasHapusbukan hanya koper uang di perut bumi indonesia
kesenangan yg sesaat
karena tiap detik bisa berubah
Prince Vassago cukup bijak juga ya plus bisa menerawang apa yg akan terjadi ke depan akibat dari sesuatu yg terjadi saat ini. Tp entahlah dia kan seorang atheis?
BalasHapusBagaimana pula ya nasib Bombang dan Nathalia, apakah kesenangannya memang cuma sesaat. Seharusnya memang berpikir spt itu, kesenangan dunia hanya sementara.
@B0mb4ngjr,
BalasHapusIya memang awalnya terinspirasi dari Ajax / Francis.
Pengarang besar bilang, inti sebuah cerita adalah amanat. Selain itu, saya memang geram dengan orang-orang yang sering menebar polusi seenaknya.
@She Zhie,
BalasHapusIya, biasanya atheis pada pintar karena mereka mengedepankan logika daripada dalil dalil keTuhanan.
@Ukhty Nur Maya,
BalasHapusIya, kita bahkan tak tahu, kapan malaikat mencabut nyawa kita.
@Putra Artmedia,
BalasHapusSilakan disimak kelanjutannya.