Black Hack Squad : Double Agent 7 | Azi Satria
Black Hack Squad : Double Agent 7
Azi Satria
*
Aziz melangkahkan kakinya lebih cepat menuju pria itu, ya, pria yang ia kenal sebelumnya.
Pria berkulit hitam itu memeluk Aziz sambil menepuk-nepuk pundaknya. Dengan pikiran diliputi rasa heran, Aziz mencoba mengingat pria itu. Tapi si kulit hitam sudah lebih dulu membawa Aziz di pundaknya.
---
Angin berhembus dengan kencang, menerbangkan daun-daun kering yang kemudian jatuh ke tanah dan jalanan Moskow.
Lalu lalang orang-orang yang sibuk itu tampak tak menghiraukan segarnya angin. Tetap saja mereka mengipasi wajah mereka. Populasi manusia di Moskow semakin pesat bertumbuh. Beberapa tahun lalu dunia memandang sinis Moskow karena menganggap populasi manusia disini akan musnah, tapi kenyataan terbalik dengan dugaan.
Trotoar penuh oleh orang-orang berseragam rapi, remaja berpakaian minim, dan para ibu rumah tangga yang membawa sayuran dari pasar sambil sesekali bercanda dengan pejalan kaki lainnya.
Matahari hampir tenggelam, mungkin bosan menyinari bumi yang penuh polusi dan sudah tua. Senja ini cerah, membuat orang-orang itu pergi ke taman untuk menikmati keindahan sore.
Di antara para pejalan kaki, terlihat seorang pemuda dengan jaket menutupi sekujur tubuh tengah berlari dengan terengah-engah. Tampak wajahnya dipenuhi kecemasan. Berkali-kali ia memukulkan tangan kirinya ke tanah. Dengan tergesa ia berlari menuju ke gang antara rumah sakit dan toko alat pancing.
Matanya menatap gusar pada tangan kirinya sendiri, lalu dengan penuh rasa marah ia meninju dinding gang sekeras mungkin.
"Trakk!"
Pecahan tembok menghambur. Tembok itu hancur sekepalan tangan. Tampak pecahan itu mengenai wajah si pemuda. Terlihat urat-urat tangannya mengencang, darahnya berdesir ketika menyadari tangannya hanya lecet saja, hanya sebagian kulitnya terkelupas.
"Aku.. Aku berhasil.." gumam pemuda itu, lalu masukkan dua tangannya ke jaket untuk kemudian bergegas kembali ke markasnya.
---
Setelah Lana sembuh dari demamnya, ia menemui Pietro dan kawan-kawan asramanya. Betapa terkejutnya ia waktu Pietro menyuruhnya untuk melatih tangannya.
"Kau itu lemah sekali, sel-sel tangan barumu itu tidak bereaksi dengan selmu. Kalau kau rajin olahraga, selmu akan menjadi panas dan akan bereaksi." kata Pietro.
"Pekerjaanku memang hanya menulis di blog, menikmati alam, dan ... Semua yang tak melibatkan fisik." jawab Lana.
Lana akhirnya menerima pekerjaan itu, ia pergi ke permukaan tanah, olahraga mengelilingi Moskow, dan kita tahu apa yang terjadi di sesi sebelumnya.
---
Ruangan Dewan Indonesia ini terasa panas saat Antonius melihat kehadiran dua orang ke ruangannya. Yang satu adalah Red Cat, ia sendiri yang menyuruhnya datang kesini. Tapi yang datang bersama Red Cat ia sama sekali tak mengenalnya.
"Kita akan mencari tempat berlindung." kata Antonius sambil matanya tak berhenti menatap lelaki yang datang bersama Red Cat.
"Ini Bombang. Anggota Anonymous lokal." kata Natalia.
Antonius manggut-manggut.
"Hari ini juga aku telah mengomando seluruh anggota agar berkamuflase. Aku sendiri akan pergi ke Israel." kata Antonius.
"Tuan yakin akan meninggalkan jabatan Dewan di ASFRE?" tanya Natalia sedikit heran.
"Tentu saja. Aku akan mencari kembali penerus gelar kehormatan Marquis Shax." kata Antonius.
"Anda masih muda." kata Natalia.
"Ya, aku akan menghabiskan sisa nyawaku di Srilanka atau Kamboja. Aku merasa sudah lelah dengan Devil Triangle." kata Antonius "Hari ini pula kau harus berkamuflase dan kau juga yang mengatur pertahanan atau serangan selama aku mencari penerus Marquis Shax."
---
Aziz merasakan kehangatan menerpa wajahnya, membuat ia terbangun dari tidurnya. Ia melihat ke sekelilingnya, terdapat orang-orang yang tak asing lagi bagi dirinya. Orang-orang yang membangkitkan kembali amarahnya.
"Kampret sialan!" maki Aziz, lalu bangkit dan acungkan jari tengahnya.
Ruangan ini menampung Aziz di atas ranjang dan beberapa orang di sekelilingnya yaitu Lana, Terra, Eisel, Zero, dan Pietro.
Lana menghindar ketika Aziz hendak memukul kepalanya dengan penuh amarah.
"Hei! Tenangkan dirimu!" kata Pietro sambil pegang dua tangan Aziz.
"Dimana si Natalia bodoh itu? Sialan! Hampir saja dia membunuhku!" maki Aziz.
"Kau telah terbunuh. Bukan hanya hampir." kata Zero.
Aziz sudah tampak tenang. Ia kembali duduk di kasurnya.
"Kau kenapa di ASFRE?" tanya Eisel memandang tajam.
"Mereka membedahku. Aku mendengar kata Phoenix dari tukang bedah laknat itu." gerutu Aziz.
Terra memegang bahu Lana "Oh ya, aku tak bertemu Natalia akhir-akhir ini!"
Pietro tampak heran juga.
---
Malam itu.
Pietro merasakan seluruh badannya gemetar. Terra dan Zero sibuk melacak Natalia dan kode Phoenix. Sementara itu Aziz, Eisel, dan Lana duduk di tengah ruangan komando dengan serius.
"Vassago. Aku mendengar kata itu dari percakapan di ruang Dewan." kata Aziz.
Eisel terhenyak. Ia menggigit-gigit ujung kukunya. Menyadari jika mantan majikannya itu kini kembali berkeliaran.
Terra bangkit dari depan komputer, lalu menghampiri Pietro dan berkata "Natalia tidak ada di seluruh ruangan. Tahanan Bombang juga hilang."
Pietro semakin cemas. Keringat dingin mengucur. Ia menatap semua orang di ruangan.
"Berarti benar.. Isu Red Cat anggota Anonymous." kata Pietro dengan gemetar.
Hening.
"Kalau begitu, alasan ia menyuruh double agent ke WEC adalah rencana pembunuhan." kata Zero.
"Ya! Jalang itu hendak membunuhku secara terselubung! Sialan!" maki Aziz.
---
Natalia dan Bombang terpaksa ikut bersama Antonius menuju Israel.
Jet pribadi milik Antonius ini begitu mewah, mulai dari 30 pelayan, minuman keras lengkap, hingga lima gadis Amerika yang menari striptis.
Bombang duduk di sofa bersama Natalia. Sedangkan Antonius berada di kamarnya.
"Dasar gila." kata Bombang sambil matanya tak henti-hentinya menatap lima gadis yang bergoyang di depan.
"Kau pasti kecipratan harta kan?" tanya Bombang dengan jari tangan menuding Natalia.
Natalia diam. Ia masih saja merenung. Menatap kosong. Entah apa yang ia pikirkan.
"Kau kenapa?" tanya Bombang heran.
"Nggak. Aku merasa bersalah." jawab Natalia, kemudian ngeloyor pergi ke area dapur.
Bombang merasa heran dengan sikap wanita yang baru ditemuinya itu. Perlahan ia juga merenung. Memikirkan bandnya, memikirkan pekerjaan, teman, dan saudaranya.
Hujan malam itu turun bagaikan jarum-jarum perak, langit gelap dipenuhi gumpalan awan hitam yang bergerak malas.
---
Rapat Black Hack Squad.
Pietro terdiam dengan sejuta pertanyaan. Untung saja Akhedon segera membuka acara, dengan mata berlensa dan jaket kumal ungu di tubuhnya, ia berbicara untuk para hadirin.
"Internal Black Hack Squad tersusupi agen Anonymous. Red Cat." kata Akhedon.
Kata-kata pria asal Israel itu membuat Yuko Sako terhenyak dari duduknya.
"Red Cat menghilang bersama tahanan kita." lanjut Akhedon, mata pria ini menyapu seluruh wajah agen yang duduk di depannya.
"Kita harus bertindak. Tadi pagi kelompok yang mengatasnamakan Devil Triangle telah menjatuhkan website base kita. Anonymous Bangladesh juga telah melancarkan serangan. Identitas kita telah terkuak." papar Akhedon.
"Hari ini. Ya. Semua agen kita turunkan. Aku mendapat kabar jika salah satu petinggi Anonymous ada di Indonesia." kata Akhedon.
---
Yuko Sako menghampiri ketiga agen anak didiknya 083,128, dan 512. Dengan pandangan cemas, Yuko menatap lekat ketiga agen itu.
"Aziz. Kau memang selamat pada misi WEC, tapi.. Nyawamu tersisa satu lagi." kata Yuko, tangan keriputnya menepuk bahu Aziz.
"Tak usah cemas, pak tua. Aku malah cemas pada tubuhmu, kau harusnya menjaga pola makan biar gak cepetan mati." kata Aziz.
Walau kata-kata Aziz sangat tidak sopan, tapi Yuko terharu, air mata bangga mengalir dari matanya.
"Lana, gunakan tangan kirimu dengan baik. Selnya akan tumbuh kembali dalam hitungan menit. Tapi kau lemah, tetaplah bersama Aziz. Ziz, aku harap kau melindungi Lana." kata Yuko.
"Dari dulu dia ini memang merepotkan." maki Aziz.
Lana mengambil rompi anti peluru, lalu memakai sarung tangan, menggunakan kacamata yang terhubung dengan komputer Terra Carter, lalu mengambil sepucuk senapan.
"Misi kalian sulit." kata Yuko "Pertama harus memata-matai gedung ASFRE, jika kalian melihat Natalia keluar atau Vassago, langsung saja tembak."
"Kenapa tidak masuk ke gedung?" tanya Aziz.
"Kau mau mati?" Yuko balik bertanya.
"Nah, Terra, kau hanya perlu melihat dari layar keadaan di ASFRE yang terhubung dengan kacamata Lana dan Aziz. Kau bergabung dengan Pietro dan tim penyelidik di ruangan inti." jelas Yuko.
---
Angin dingin menusuk tulang. Cuaca yang mendung berawan membuat Aziz dan Lana yang duduk di helikopter itu merasa kedinginan. Dibawah mereka ratusan lampu berwarna-warni menghiasi kota Jakarta.
Terlihat pula kendaraan yang hilir mudik seolah jalan kosong itu hal tabu bagi kota Jakarta. Jutaan manusia ada di bawah sana. Berkutat dengan ganasnya kehidupan dan persaingan.
"Cepat turun!" teriak pilot.
"Hah?!" tanya Aziz.
"Turun!" teriak pilot sekali lagi, seolah hendak mengalahkan deru helikopter.
Aziz menendang bokong Lana "Turun, bodoh."
"Se.. Sekarang?" tanya Lana.
Helikopter terbang rendah, sekitar tiga meter di atas atap gedung pabrik tekstil.
Lana bergumam. Mengucap doa. Kemudian melompat dengan sekujur tubuh gemetar dan mata terpejam.
"Bruk."
"Bruk."
Aziz menyusul. Lompatannya membuat sikutnya terasa agak sakit walau pelindung telah terpasang.
"Sialan!" maki Aziz, lalu bangkit dan membuat Lana berdiri.
Helikopter telah menderu, terbang menuju utara. Hingga akhirnya hilang ditelan kegelapan.
"Hei, kau." kata Aziz "Kau duluan."
Lana tampak bingung, kemudian bertanya "Ke.. Kemana?"
"Kau ini bego atau insomnia? Lekas lompat ke gedung di depan." kata Aziz.
Gedung yang hendak Lana lompati itu memiliki atap penuh kotak kayu dan tiang-tiang besi. Mungkin penangkal petir.
Lana mengambil ancang-ancang, kemudian ia melompati gedung dengan sekuat tenaga dan jantung berdebar.
"Bruk!"
"Bruk!"
Aziz menyusul. Mereka bergulingan diantara peti kayu yang berbau busuk akibat kehujanan.
Aziz bertanya lewat mikrofon di helmnya "Apa kami harus mengintai dari atap gedung ini?"
"Ya. Taruh moncong senapan di antara peti kayu dan amati siapa saja yang keluar masuk ASFRE. Kami akan mengomando disini." jawab suara di ujung sana.
Lana dan Aziz taruh senapan laras panjang itu di atas peti kayu berjamur. Dari atas sana ia bisa melihat gedung ASFRE yang megah dan bercahaya. Di bawah sana mondar-mandir para penjaga.
Napas Lana mulai teratur, matanya tak berhenti menatap pintu gedung ASFRE yang sesekali keluar masuk manusia-manusia berseragam biru.
Rintik hujan mulai turun. Membasahi kedua agen itu di dalam pekat malam. Awan hitam berkumpul, sesekali kilatan cahaya membelah langit, tanpa suara petir. Angin malam bertiup, meniup butir-butir air hujan ke sembarang arah.
"Cess.."
Terlihat asap tipis mengepul dari kulit Aziz yang terkena air hujan. Lana mengernyitkan dahi.
"Sejak aku hidup kembali di ASFRE, aku tahan panas, api sekalipun. Tapi air tampaknya merupakan kelemahanku." kata Aziz.
"Perih?"
"Tidak. Berasa kena listrik dikit aja."
"Kalau aku gak bisa merasakan dingin. Akibat tangan kiriku ini."
"Pasti gak tahan sama panas."
"Mungkin."
---
Perjalanan ke Israel begitu melelahkan. Apalagi Bombang harus membawa peralatan Antonius yang ditaruh dalam koper-koper besar. Natalia membawa Antonius dalam kursi roda.
"Kemana kita?" tanya Bombang saat ia mengikuti Natalia dan Antonius menuju perumahan elit.
"Ikuti saja." jawab Natalia.
Dengan susah payah, akhirnya Bombang sampai di depan rumah bercat hitam dan dipenuhi relief aneh.
Tiga orang lelaki berbadan kekar membungkuk saat Antonius masuk ke dalam rumah.
"Ini rumahku. Anggap saja rumah sendiri." kata Antonius.
"Kupikir anda tinggal di Maluku." kata Natalia.
"Aku pindah kewarganegaraan." jawab Antonius sambil tersenyum.
Bersambung...
Bagus ceritanya sob sebuah missi yang begitu rumit... & apa yaa!! yang Lana & Azis cari di gedung ASFRE.. ok lanjut sob kayanya bakalan seru nanti ceritanya nih..?? :D
BalasHapusHuwahahaha, kurang ajar si Aziz, masa nyuruh Lana turun duluan dari heli dan ngelompatin gedung juga duluan.
BalasHapus:mrgreen:
Nah lo, Aziz dan Lana nyari di Jakarta, Natalianya ada di Israel.
:wink:
@Admin Dunia Cerita,
BalasHapusHihihi... Aziz emang udah wataknya gitu hihi..
Keren pak, tu si antonius kok bawa barang banyak amat. Padahal kan tinggal pindah, semua dah ada di komputer hehehe, bikin kasihan orang. Pak yg cerbung barunya kapan judulnya apa nih. Lanjut rebel ah.
BalasHapus