Black Hack Squad : Double Agent 2 | Azi Satria
Azi Satria
Double Agent bagian Dua
---
Tokyo International Airport, Jepang.
Udara dingin malam ini seolah hendak membekukan tulang dan masuk menusuk pori-pori. Tampak sebuah pesawat turun dengan decitan keras saat rodanya mendarat di landasan pesawat.
Lewat jaring kawat pinggir bandara inilah Yuko Sako menyaksikan semuanya. Masih dengan sake di tangan kanan dan buah apel di tangan kiri, ia menikmati pemandangan para penumpang yang turun dari pesawat itu.
Ponselnya berdering.
"Temui ia di bandara." kata Red Cat.
Mata lelaki tua itu tak lepas dari bandara, ia terus mengamati pesawat yang membawa Bombang.
Perlahan angin malam berdesir, seolah mendesah lirih sehingga pria itu beranjak dari tempatnya.
---
Aziz menatap cemas ke arah Lana. Wajah lelaki itu tampak lelah, begitu juga dengan Lana yang siapkan pistol di tangan kanan dengan posisi siap tembak.
Pet!
Lampu padam. Terdengar suara gaduh dari ruangan para pekerja. Aziz mulai pegangi pistolnya, keringat menetes-netes dari ujung dagunya.
"Brakk!"
Pintu terbuka. Sekonyong-konyong datang empat orang penjaga dengan senapan laras panjang di tangan mengarah pada kepala Aziz dan Lana.
Aziz menunduk, lalu tembakkan peluru ke kepala seorang penjaga. Lana berkelit ke samping, lalu jongkok dengan dua tangan memegang pistol ke depan.
Terdengar raungan si penjaga ketika timah panas itu menembus keningnya yang membuat kepalanya mengucurkan darah segar. Tiga lainnya cepat bergerak dengan senapan siap tembak.
Keadaan yang remang-remang membuat posisi Lana dan Aziz tidak tampak oleh para penjaga WEC itu, apalagi mesin-mesin yang berjajar menghalangi tubuh mereka dari pandangan para penjaga.
"Tempat ini sudah kami kepung. Tak usah sembunyi." gertak penjaga itu, terdengar keraguan di suaranya.
Cahaya langit malam yang menembus kaca ruangan sebelah membuat posisi para penjaga terlihat jelas oleh Lana dan Aziz, tapi kedua agen ini tidak terlihat oleh para penjaga.
"Plip."
Suara tubuh jatuh bergedebuk kemudian terdengar. Tanpa suara. Tanpa raungan.
"Dor! Dor! Dor! Dor! Dor! Dor!"
Rentetan peluru dikeluarkan dari moncong senapan berjenis AK47 itu. Tapi sia-sia saja karena peluru itu hanya mengenai mesin-mesin tanpa sedikitpun menyentuh tubuh Lana ataupun Aziz.
"Trang! Trang! Trang!"
Peluru beradu dengan mesin, percikan api terlihat. Deru napas Aziz semakin cepat. Lalu dengan penuh rasa geram agen ini melompat dan tikam leher penjaga dengan pisaunya.
"Anjing kau bangsat!" maki Aziz, lalu dengan kemarahan memuncak, ia menggorok leher penjaga malang itu memutar.
"Dor!"
Pupil matanya membesar, keringat mengucur, bukan hanya keringat, tapi juga darah yang mengucur kian deras. Membasahi dada, perut, dan tubuh lelaki malang itu.
---
Bombang merasakan udara dingin Tokyo mulai menerpa wajahnya. Segar sekali, pikirnya. Indonesia sangatlah panas sehingga ia sangat beruntung bisa menikmati udara sesegar Tokyo malam ini.
Kakinya mulai dilangkahkan, melangkah menuju kerumunan orang yang sama sekali tak ia kenal. Yah, tujuannya juga bukan untuk orang-orang berkulit putih ini, tapi ia mencari seseorang yang akan membawanya menuju festival Metal.
Sebuah sapaan khas terdengar. Bombang menengok ke samping. Ia lihat pria tua dengan jaket usang yang membawa bir di tangannya.
"Bombang?" sapa pria itu.
"Ya." jawab Bombang, ia menjulurkan tangannya, yang langsung disambut oleh Yuko Sako.
"Mari ikut." kata Yuko, ia lalu berjalan di depan Bombang.
"Dimana konsernya, kek?" tanya Bombang.
"Sekitar rumahku di pusat kota." jawab lelaki tua itu, lalu memanggil taksi dengan malas.
---
Aziz merasakan denyutan jantungnya melambat, perih dan panas ia rasakan di sekujur tubuhnya. Sebuah peluru telah bersarang di bahunya.
"Aaaanjjiiinggg!!!" Aziz merasakan seluruh alam ini merasuk ke tubuhnya, hingga ia mampu mengangkat pisaunya kembali dan mengiris-iris wajah si penjaga.
"Ziz!" Lana berteriak keras.
Tapi sayang, karena lelaki itu sudah lebih dulu meninggalkan raganya dengan sebutir peluru di bahu.
Lana memandang tubuh Aziz dengan cemas dan penuh rasa takut. Matanya menangkap sesuatu di luar ruangan, ya, ia melihat wajah-wajah panik para karyawan.
Ini kesempatan, pikirnya.
Dengan penuh keberanian yang sudah terkumpul, ia meloncat ke luar ruangan dan segera menerjang para karyawan, lalu masuk ke dalam lift.
"Red Cat! Aziz telah..." Lana berteriak di depan telepon.
"Lakukan saja misimu! Cepat!" bentak Natalia.
"Anjing kau!" maki Lana. Lalu dengan isak tangis ia berlutut, lalu meraung. Raungannya semakin keras saat tiga orang penjaga masuk dan menodongkan moncong senjata ke wajah Lana.
---
Natalia memandang cemas pada layar, melihat bahwa keamanan WEC telah diperketat.
"Dua agen kita ada disana. Satu mati." kata Natalia, matanya tak berkedip.
Terdengar suara di belakangnya,
"Dengarkan, kita baru saja dapat agen baru, dan kau membunuhnya? Ya-dengan sengjaja kau mengirim mereka dalam misi berbahaya."
Natalia menengok ke belakang. Berdiri dengan tangan di dada seorang yang kita kenal dengan nama Zero Bond (baca bhs ep 3). Lelaki itu memandang tajam Natalia.
"Batalkan misi. Kirim Djinn dan ledakkan drone bomb di sekitar WEC." kata Bond, wajahnya tampak cemas.
"Bodoh, kita sudah hampir sampai untuk mengambil data WEC!" gerutu Natalia.
---
Lana menatap ketiga orang yang menodongkan senjata ke atas kepalanya. Mereka adalah penjaga WEC.
"Crass!"
Darah mengucur.
Lana melotot, perutnya terasa penuh, mengakibatkan mual tak tertahankan datang menyerbu.
Tiga kepala menggelinding.
Kini berdiri di depan Lana seorang yang terbungkus balutan kain yang berwarna biru. Tangannya memegang pedang panjang yang berlumuran darah, pedang yang menebas tiga kepala sekaligus.
"Ikut aku. Misimu telah dibatalkan." kata mahluk berjubah biru itu.
Bersambung..
Action-nya keren sih gan, tapi kalau dicampur dgn Djinn menurut ane jadi rada aneh.
BalasHapusKayak cermis gan.
:D
@Admin Dunia Cerita,
BalasHapusHaha, Djinnya juga bukan murni mahluk supra.
hbd cukk :D
BalasHapusminyak gan, maaf lagi males baca hehehe
BalasHapusWaduh si aziz malah meninggal. Benar sob klo ada makhluk supranatural kurang sip nanti di logika :D
BalasHapus