Black Hack Squad : Double Agent 6 | Azi Satria

Black Hack Squad : Double Agent 6

Azi Satria

*

Terdengar suara erangan, udara terasa pengap. Para perawat itu tergesa-gesa membawa tubuh tanpa tangan kiri itu menuju ruangan khusus bedah.

Setelah menyuntikkan obat penenang, mereka membaringkan tubuh Lana di kasur bedah. Terlihat empat orang perawat itu memasang masker, menutupi wajah tegangnya yang juga tampak cemas.

Seorang wanita masuk ke dalam ruangan, dia Terra Carter atau yang dikenal agen 512. Wajah gadis itu tampak sangat sedih, matanya sayu.

"Maaf, silakan tunggu di luar." kata perawat itu, lalu menutup pintu setelah Terra keluar.

Perawat itu menatap daging merah tangan Lana, lalu membawa pisau bedah. Dengan hati-hati ia memotong sebagian daging hingga potongannya rapi.

Perawat lain membawakan sepotong tangan berwarna kebiruan, lalu dengan bantuan pisau bedah dan alat-alat bedah, para perawat itu memasangkan potongan tangan ke bahu Lana.

---

Aziz merasakan seluruh tubuhnya panas luar biasa, ia juga merasakan seluruh urat di sekujur tubuhnya seolah bergerak dibawah kulitnya.

Jantungnya mulai terasa sakit, ia merasakan seluruh darah di tubuhnya bergejolak ingin menyembur keluar. Aliran darahnya yang seolah membeku itu terasa mengalir bak gunung es tertimpa pemanasan global.

Perlahan ia dapat mendengar sorak kegirangan dari Trung dan para perawat. Ia juga dapat merasakan saat orang tua asal Vietnam itu menyulut tangannya dengan api.

Aziz hendak berteriak. Tapi ia menahannya ketika ia menyadari jika tangannya tidak terasa panas saat api itu melalap punggung tangannya.

"Selamat datang kembali... Phoenix!" kata Trung dengan wajah berseri-seri.

---

Mobil Porsche ungu itu sampai di halaman parkir di depan gedung ASFREC. Pemuda berambut kuning keluar dari mobil, tangan kirinya membawa koper berwarna hitam.

"Maaf. Hanya pekerja yang dapat masuk ke sini." kata penjaga ketika pemuda itu berusaha masuk ke dalam gedung.

"Aku teman Antonius, Dewan Indonesia." kata pemuda itu, lalu berikan kartu namanya.

"Vassago.. Rasanya temanku yang memuja setan sering menyebut nama ini.." kata penjaga itu, lalu menelepon agar ia dihubungkan dengan Antonius.

"Ah, iya, Tuan. Maaf telah mencurigai anda. Silakan masuk." kata penjaga itu setelah ia menerima pernyataan jika Vassago memang temannya Antonius.

Prince Vassago terkagum-kagum saat ia melewati lorong, puluhan pekerja sibuk dengan penelitian mereka. Ia melihat banyak cairan berwarna-warni diletakkan di dalam tabung kaca. Ia juga terkaget-kaget ketika melihat seorang pria memiliki dua tanduk di kepalanya dan selang menancap di punggungnya.

Ia akhirnya sampai ke sebuah ruangan dengan pintu berukir garuda dan bendera Indonesia.

"Masuk." kata orang di dalam.

Sang pangeran tanpa basa-basi buka pintu, lalu tertawa kecil saat melihat pria botak Dewan Indonesia itu duduk di atas kursi roda.

"Lama tak jumpa.." kata Vassago.

"Ya. Dulu kau masih 12 tahun waktu itu, aku juga masih kuat berdiri dan berpetualang dari satu pelacur ke pelacur lainnya." kata Antonius, lalu tersenyum membayangkan masa mudanya.

"Kenapa kau duduk disana? Kecelakaan?" tanya Vassago.

"Sebelum aku menjadi dewan tinggi di ASFRE, aku adalah tikus percobaan perusahaan gila ini, sehingga kakiku lumpuh. Oh ya, bagaimana dengan ayahmu?" tanya Antonius.

"Mati terkena radiasi radioaktif di Jepang beberapa tahun lalu. Mungkin pekerjaan Anonymous. Karena tabung nuklir itu diproteksi sandi, dan waktu ayahku ke sana, ada yang meretas sandinya, sehingga ia mati mengenaskan. Seperti yang kau tahu, Anonymous tidak ingin ayahku menjadi Vassago karena ia bisa saja mengambil alih kekuasaan Anonymous." jelas Vassago.

Antonius tampak kaget saat mengetahui ayah Prince Vassago meninggal, ia berkata "Berkatalah sopan untuk ayahmu, bodoh."

"Kenapa? Bukankah kodrat alam ini yang hidup pasti mati, dan kata meninggal atau mati itu hanya kata yang diciptakan manusia. Artinya sama saja, aku tidak pakai standar manusia." kata Vassago, lalu serahkan kopernya ke Antonius.

"Apa ini?" tanya Antonius.

"Buku pedoman dan komando. Hari ini juga aku akan menemui King Balam di Tibet. Selain karena aku tak mau ikut campur urusanmu dengan Black Hack Squad, aku juga masih ingin menikmati masa mudaku, aku belum mau mati."

"Aku juga akan menghindar ke Israel."

"Bodoh kau. Sejak awal kau yang menciptakan perang ini. Kau yang menghasut Anonymous agar menyerang Kremlin dan menyuruh Black Hack Squad masuk ke WEC dengan bantuan Red Cat, kau yang menjadi dalang, lalu kau hendak meninggalkan arena?"

"Kita hanya tinggal menunggu kehancuran salah satu dari mereka. Antara Anon atau BHS pasti akan ada yang hancur, ketika salah satu hancur, kita masuk ke internal si pemenang, lalu menghancurkannya. Dengan sedikit permainan dari dalam, kita akan bisa melambungkan kembali nama Devil Triangle."

Prince Vassago manggut-manggut mendengar penjelasan Antonius. Mereka terdiam beberapa saat, membiarkan udara yang sudah tak segar lagi masuk ke paru-paru mereka.

Antonius membuka koper. Ketika koper itu terbuka, Prince Vassago sudah pergi meninggalkan ruangan dan berkata "Selamat menikmati permainanmu, Marquis Shax!"

---

Bombang merasakan tubuhnya segar kembali saat ia keluar dari kamar mandi di hotel Jakarta itu.

Natalia yang duduk menunggunya di kasur bertanya "Kau sudah tahu apa yang akan terjadi?"

"Ya.. Seorang panda dan seorang pahlawan.. Di dalam kamar hotel.. Hmm biarkan aku menduga-duga.." kata Bombang dengan wajah genit.

"Tidak. Kita akan pergi sekarang juga." kata Natalia, lalu beranjak keluar dari kamar.

"Hei.. Hei.. Kau beneran mau pergi?" tanya Bombang saat menyadari wanita itu sudah hilang dari pandangannya.

Natalia dan Bombang memanggil taksi, lalu pergi ke Tangerang. Ya, ke gedung ASFRE.

---

Lana merasakan tangan kirinya ada kembali. Mungkinkah kejadian sebelumnya hanyalah mimpi?

Lana menggerakan tangan kirinya walau bahunya terasa sakit. Ia menatap sekelilingnya, ia berada di ruangan operasi. Ketika ia melihat tangannya, betapa terkejutnya ia ketika menyadari tangan kiri sambungannya itu berwarna biru dengan tulang-tulang jari mencuat tak terbungkus kulit di punggung tangannya.

Walau terlihat aneh, dengan tangan itu Lana terasa ringan, dingin, dan ia merasakan hawa dingin menjalar ke seluruh tubuhnya.

Krek...!

Pintu terbuka, masuk Terra Carter ke dalam ruangan dengan wajah berseri-seri. Terra kemudian mendekat ke ranjang.

"Kamu jangan banyak bergerak. Sel-sel tangan barumu belum bisa beradaptasi dengan tubuhmu. Takutnya malah busuk." kata Terra, lalu mengelus bahu Lana.

"Ini tangan siapa?" tanya Lana.

Terra tersenyum, lalu menjawab "Kata Pietro, itu tangan seseorang dari dimensi lain."

Lana mengernyitkan kening "Jangan membohongiku, aku sudah pulih benar."

"Memang begitu kok." kata Terra "Kalau kau tahu teori relativitas waktu Einstein, perjalanan antar ruang dan waktu bisa dilakukan. Dan beberapa waktu lalu Black Hack Squad mengambil sampel dari materi lubang hitam, dengan itu, mesin antar dimensi bisa diciptakan dan terlempar keluar satu tangan kiri dan tubuh tanpa kaki dan tangan kanan."

Lana semakin bingung dengan penjelasan Terra.

"Sel tangan itu berbeda dengan manusia pada umumnya, kata Pietro kamu akan mengalami demam. Tapi beruntungnya, kamu akan tahan terhadap penyakit dan dingin."

Lana tersenyum pada Terra, kemudian bertanya "Apakah teman-teman satu asrama kita selamat?"

"Iya, mereka selamat. Hanya saja Zero mengalami patah kaki kiri, tapi pihak BHS sedang mengobatinya." kata Terra diakhiri senyuman manis di wajahnya.

"Terra, kau tak ingat keluargamu?" tanya Lana.

"Tentu saja aku ingat. Aku juga rindu negaraku, Ceko, negara yang bahkan tak banyak dikenal. Aku rindu penggemar video-videoku.." ujar Terra sambil terisak.

"Aku juga rindu dengan suasana Bali, aku rindu semua pengunjung blogku, mereka selalu menyemangatiku menulis, dan kini aku merasa kehilangan, aku merasakan kesepian bahkan di tengah keramaian." Lana mengingat semuanya, hingga tak terasa air matanya mengalir. Ya, seramai apapun tanah orang lain, kita nyaman di tanah air sendiri.

---

Trung memasang wajah riang, lalu sambil bernyanyi-nyanyi kecil, ia meninggalkan Aziz sendiri di ruangan itu.

Aziz bangkit, lalu pandangi sekelilingnya, alat bedah, obat-obatan, dan alat medis tertata rapi. Dengan hati-hati, Aziz turun dari ranjang, lalu berjalan menuju pintu. Setelah memastikan tiada orang, ia kemudian keluar dari ruangan dan berjalan menuju lorong.

Aziz berhenti saat ia mendengar percakapan yang terdengar janggal dari ruangan Dewan Indonesia.

Tapi ia kemudian berjalan ke kamar mandi, mencari celah untuk kabur. Ia naik ke atas bak mandi dan membuka jendela kamar mandi.

Dengan sedikit keraguan, Aziz melompat dari kamar mandi ke luar. Aziz merasakan kakinya sakit ketika ia menjejakkan kaki ke tanah. Kemudian ia melangkah menuju gang.

Di ujung gang, terlihat seorang pria berjas rapi menatap aneh pada Aziz, kemudian terlihat menghubungi seseorang.

Pria ini melepaskan ponselnya hingga jatuh ke tanah. Perlahan pria itu bergumam lirih dengan nada tak percaya "Bajingan itu ternyata masih hidup.."

Bersambung...

Haii readers, sedikit info saja, seri Double Agent akan segera berakhir, kalau ada saran dan kritik silakan disampaikan agar tulisan saya dapat dinikmati lebih enak. Oh ya, ada yang tau kenapa Vassago mendatangi Antonius seolah-olah mereka adalah teman akrab? See u next time! Love u so much readers! Ketika anda selesai membaca Double Agent 6 ini, saya doakan kalian yang membaca semoga panjang umur dan sehat selalu!

Komentar

  1. Admin Dunia Cerita25 April 2016 pukul 11.42

    Huwah, ane baru sadar, ternyata imajinasi ente luas banget.
    :)

    BalasHapus
  2. Aziz malik kabur diketahui seseorang...pria berjas apakah prince vassago saya tidak tahu.

    BalasHapus
  3. Aku dah baca sob, tapi pas itu batuku habis dan besoknya kuotaku yang habis hhhh. Di tunggu updatenya, makin seru dan makin lama nunggu update. Izin baca yg rebel sob.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer