Black Hack Squad : Double Agent 3 | Azi Satria
Azi Satria
Black Hack Squad : Double Agent saga. Episode 3.
*
Suasana kedai kopi modern itu tampak sepi. Apalagi jam menunjukan pukul 1 dinihari. Hanya ada seorang pemuda berkacamata yang sibuk dengan laptopnya, dan di sudut ruangan duduk dua orang manusia, Bombang dan Yuko.
"Bagaimana dengan konsernya?" tanya Bombang penuh antusias.
Yuko tersenyum, kemudian menjawab sambil menatap mata lelaki itu "Belum ada jawaban dari pihak panitia. Tetapi, sebagai tamu undangan, anda terlebih dahulu diharuskan menyerahkan data."
"Data seperti apa?" tanya Bombang.
"Anggota organisasi apa, mm.. Riwayat pekerjaan."
"Untuk apa?"
"Verifikasi data."
Bombang berdiri, kemudian bertanya sambil jari telunjuknya mengarah pada wajah Yuko "Berarti kalian sudah punya dataku?"
"Tentu saja." jawab Yuko.
Bombang angkat tangannya hendak memukul, tapi ia urungkan niatnya ketika ia mendengar suara di belakangnya.
"Tangan di atas kepala." kata satu suara berat.
Bombang menengok ke belakang, tepat dibelakangnya berdiri dengan pistol terangkat seorang pria berjas hitam. Bombang kemudian melihat sekelilingnya, ia lihat pengunjung berkacamata juga todongkan pistolnya. Tiga orang pelayan kedai juga bawa pistol di tangan mereka.
"Sialan! Apa ini?" tanya Bombang saat lelaki berjas memborgol dua tangannya di punggung.
(*)
Malam berikutnya, Moskow.
Lana tampak sudah lebih segar dibandingkan kemarin. Sementara itu Yuko Sako terus menerus memarahi Natalia akibat kecerobohannya, Aziz meninggal dan memancing reaksi Korea Utara.
"Oke, kau ku keluarkan dari timku." kata Yuko, sorot matanya yang tajam seolah hendak menelan bulat-bulat Natalia di depannya.
Natalia merogoh sakunya, mengeluarkan sebutir peluru, lalu melemparkannya ke dada Yuko.
"Baiklah, tapi aku masih punya hak untuk mengatur pelatihan dasar." kata Natalia, ia lalu berbalik hendak pergi.
"Sialan! Kau tidak melakukan pelatihan! Kau pembunuh!" maki Yuko. Tapi perempuan itu sudah keluar ruangan.
*
Asrama itu hening. Bahkan nyamuk pun tidak terdengar. Bukannya tak ada orang, tapi mereka sibuk dengan laptopnya masing-masing. Keheningan terus tumbuh membekukan suasana, hingga akhirnya Jimmy Carlin berteriak girang
"Aku sudah temukan sesuatu!"
Kontan saja itu membuat semua orang termasuk Lana yang sedang menikmati kopi menengok ke arah Jimmy.
"Apa yang kau temukan?" tanya Zero Bond.
Jimmy tersenyum, kemudian menjilat ujung jari tengahnya dan berkata "Hari ini Kremlin sedang kacau, para polisi mati misterius dan website Kremlin juga dibajak kelompok yang mengatasnamakan Devil Triangle."
Saat mendengar kata 'Devil Triangle', Eisel tampak merenung sejenak.
"Ya, kelompok ini tidak hanya mengacaukan Kremlin, tapi lima pesawat harus batal berangkat karena sistem bandara dibajak juga oleh Anonymous Israel. Tak sampai disitu, Anon Bangladesh juga melakukan defacing pada website pemerintah Russia." selesai berkata, Jimmy menatap wajah Zero.
"Devil Triangle.." Zero merenung, kemudian bertanya pada Pin "Bukankah itu kelompok yang sempat menggagalkan peluncuran misil balistik Iran?"
Pin, lelaki gendut itu mengarahkan jari telunjuknya pada Eisel tanpa berkata apapun.
Semua kini menatap pada Eisel.
Perempuan itu menghela napas, lalu rapatkan dua tangannya hingga kesepuluh jarinya yang bercincin hitam itu tampak terlihat menjijikan, kemudian ia berkata "Ini urusan masa lalu. Untuk agen 083 dan 512, anggap kalian mempelajari sejarah."
"Kisah ini bermula beberapa tahun lalu,
Waktu itu aku masih seorang pelayan restoran China di Irlandia. Hingga seorang tamu restoran mengajakku untuk bergabung dengan perusahaannya. Awalnya kukira perusahaan makanan atau furnitur, tapi dugaanku salah.
Aku diajak ke sebuah villa tua di Swiss. Saat itu aku begitu takut sehingga aku harus terus berdoa sepanjang jalan. Aku dimasukkan ke sebuah ruangan dimana ada seorang pemuda berambut sebahu berwarna kuning, bukan, bukan pemuda, tapi anak 14 tahunan.
Setelah itu aku diperkenalkan dengan internet, dan cara-cara meretas. Aku cukup nyaman, apalagi mereka memberiku honor mulai dari $1000 per web yang aku retas. Hingga akhirnya aku diangkat menjadi kepala riset dan diperkenalkan dengan kelompok bernama 'Devil Triangle'."
Usai bercerita, Eisel memandang wajah Zero yang tampak heran, lalu memandang wajah Lana dan Terra yang melongo bingung.
"Kau tak pernah menceritakan itu pada kami." kata Zero.
"Itu karena aku ingin melupakan Devil Triangle. Setelah jadi ketua riset, aku menjadi asisten keuangan salah satu dari tiga pemimpin Devil Triangle, Prince Vassago. Keuangan mereka sangat hebat, dalam satu hari uang kelompok bisa mencapai $50000 dan Vassago bisa dapat $15000 per hari. Untuk kisah ini, hanya Pin yang mengetahuinya." kata Eisel, lalu ia memejamkan mata dan hempaskan punggung ke sandaran sofa.
"Kenapa kau bisa keluar?" tanya Terra Carter.
Eisel tampak enggan menjawab, tapi wajah penuh harap Terra membuatnya mau tak mau membeberkannya "Devil Triangle pada tahun kedua aku bekerja mulai mengganas, Anonymous yang waktu itu berkuasa mulai digeser oleh Devil Triangle. Hingga akhirnya Devil Triangle bergabung dengan Anonymous, dan ketiga pemimpin Devil Triangle dijadikan tim inti Anonymous yang disebut Wakil Dewa. Saat itu banyak anggota Devil Triangle dikeluarkan termasuk aku."
"Jika diamati," kata Pin "Devil Triangle sudah nonaktif selama dua tahun, yah, seusai ber'koalisi' dengan Anonymous, Devil Triangle tidak lagi berulah. Tapi kemunculannya kembali menimbulkan pertanyaan. Kenapa mereka muncul lagi? Kenapa tidak memakai slogan Anonymous?"
Zero menanggapi "Tentunya karena mereka hendak kembali bertarung. Dan coba kita lihat, hanya Russia yang jadi sasaran mereka, sementara itu kelompok cyber di Russia hanyalah kita."
"Ya." kata Lana serius "Kita tengah diserang. Tidak, kita dipancing."
"Seluruh web pemerintah sudah down, beberapa diretas dan mengganti logo dengan logo Anonymous dan segitiga berwarna merah bertuliskan huruf Thailand." kata Jimmy, kemudian memperlihatkan halaman web yang sudah berganti rupa berwarna hitam putih.
"Bukan, itu bukan huruf Thailand, tapi huruf Ibrani bertuliskan tiga nama iblis dalam sejarah Yahudi. Itu adalah nama para pemimpin Devil Triangle, yaitu Prince Vassago, Shax, dan King Balam." kata Eisel.
"Perlukah kita memberitahu ketua?" tanya Jimmy.
"Tak perlu. Ketua mungkin sudah mengetahuinya." kata Zero.
*
Ruang Interogasi
Duduk dengan dua tangan terikat ke belakang Yugo Bombang. Matanya tampak lelah karena selama satu malam, ia dibuat tidak tidur. Apalagi ruangan sempit dengan oksigen yang hanya 20% dari ruangan inti Black Hack Squad itu membuat Bombang merasa pengap.
"Klik"
Muncul di ambang pintu seorang lelaki dengan rambut panjang sedada dan gelang bergerigi menghiasi pergelangan tangannya. Bajunya yang hitam dan matanya yang menyiratkan kebencian mendalam membuat lelaki itu benar-benar tampak seperti vokalis band Metal.
Lelaki itu kemudian duduk di seberang Bombang dan bertanya pada Bombang, "Bagaimana, nyaman?"
Bombang masih diam. Giginya bergemeletak menahan amarah yang sudah memuncak.
"Ngomong-ngomong, akulah perancang undangan untukmu. Hahahaha... Jongos Anonymous yang tertipu, sayang sekali.." lelaki berambut panjang itu tertawa bergelak.
"Bangsatt!!" Bombang berteriak, kemudian meludah ke wajah si rambut panjang.
"Aku ingin tahu, apa kau mengetahui kami? Apa Anonymous sudah mengetahui keberadaan kami?" tanya lelaki itu.
Bombang diam, lalu dengan penuh rasa muak ia semburkan dahaknya ke wajah si rambut panjang.
"Brengsek!" maki si rambut panjang, lalu berdiri dan pegangi leher Bombang.
Bersambung...
perdana gan..
BalasHapusCeritanya menarik serta ditulis secara rapi, akan tetapi saya ketinggalan menyimaknya dan rugi apabila langsung ke episode 3, dengan demikian akan saya simpan halaman bagian 1&2 di browser untuk di baca secara offline..
BalasHapusWah kelompok baru tuh devil triangle, kok yugo bombang nasibnya sial sekali?
BalasHapusHah, jadi Aziz bener-bener meninggal yah gan?
BalasHapusAne kira dia cuma terluka parah aja dipart kedua, karena ane ngirain Dia tokoh utama dicerita ini.
:D