Black Hack Squad - Rise of Phoenix 3 | Azi Satria
Bagian Tiga - Spesial Four Horsemen
Azi Satria
*
Kazama merasakan dadanya berdebar keras. Matanya melihat peluru itu berdesing melintas di atasnya. Bukan pelurunya yang membuat ia terkejut. Tapi sosok Aziz. Lelaki itu masih ngakak disana. Sekalipun kepalanya sudah bolong.
Aziz meludah ke tanah. Lalu tertawa terpingkal-pingkal. Apalagi melihat si rambut pirang ketakutan dan mundur dengan tubuh bergetar.
Aziz menggesekkan telapak tangannya. Makin lama hingga timbul percikan api. Tak lama kemudian api membesar, mengobari tangannya.
Kelima Yakuza itu tampak terpana. Hingga Aziz melompat, lalu genggam rambut si pirang dengan tangan apinya.
"Whuurr.."
Api mengobari rambut pirang Yakuza itu, membungkus kepalanya dengan api yang menyala-nyala. Aziz segera raih pistol di tanah, lalu..
"Dor!"
"Dor!"
"Dor!"
Tiga peluru mendesing, hingga menembus kening ketiga Yakuza yang masih melongo takjub melihat Aziz. Tiga kepala itu berlubang. Tepat di kening.
Tiga tubuh ambruk. Sedangkan si pirang berlari kesetanan menuju ujung gang dengan kepala terbungkus api. Tersisa satu lagi.
Seorang pria gendut dengan lemak menumpuk di perut dan wajah penuh keringat itu berlutut di hadapan Aziz, lalu rapatkan dua tangan diatas kepala. Aziz nyengir, lalu dengan penuh rasa gemas ia menyeret tengkuk lelaki itu. Enteng sekali Aziz melemparkan lelaki itu ke ujung gang hingga jauh ke jalanan.
Aziz melangkah kembali ke mobilnya, masuk, lalu pergi menerobos gang. Diikuti oleh Kazama yang masih terkagum-kagum.
"Ckitt."
Aziz membelokkan Chevroletnya secara tiba-tiba. Debu membumbung tinggi. Lalu ia melaju dengan kecepatan tinggi. Tapi sayang, terjadi macet di depannya. Mobil Kazama melaju juga dan diam disamping Aziz.
"Ada apa ini?" tanya Aziz.
"Bodoh. Seorang pria gendut mati tergilas truk. Dan seorang lelaki berkepala api berlari di trotoar." kata Kazama.
Aziz nyengir.
"Maa! Itu ghost rider!" kata seorang anak di mobil di depan Aziz.
"Tutup matamu, nak!" ibunya tampak khawatir.
Aziz memutar mobilnya, kemudian melaju kencang diikuti oleh Kazama. Mereka menginjak gas dengan kuat, lalu menyalip mobil dengan kecepatan tinggi.
Sekejap kemudian Kazama sudah berada di depan Aziz, lalu melambaikan tangan dan berkata setengah mengejek "Transmisi otomatis.."
Acura NSX milik Kazama itu mendahului Chevrolet. Aziz menambah akselerasi mobilnya, walau terkesan antik, tapi Chevroletnya sudah dimodifikasi oleh paddle shift sehingga memudahkannya untuk kejar-kejaran di jalanan. Mereka sudah hampir 15 menit saling kejar di jalanan Tokyo.
Kazama menurunkan kecepatannya.
"Hei! Ikuti aku!" kata Kazama.
Acura NSX itu berbelok ke sebuah jalanan tanah. Cukup menyusahkan apalagi mobil sport mereka tidak bisa berjalan mulus di jalanan tanah. Mereka terus melintasi jalanan hingga akhirnya sampai di sebuah jalanan aspal kembali. Melaju sedikit, kemudian sampai di depan sebuah villa.
Kazama memarkirkan mobilnya, lalu keluar. Aziz ikut parkir. Disana berjejer belasan mobil mewah. Beberapa diantaranya merupakan mobil anti peluru.
Aziz mengikuti Kazama menuju ke dalam villa. Mereka masuk lewat pintu tinggi itu. "Busyet." kata Aziz.
Alunan musik terdengar keras. Terlihat gadis-gadis jepang dengan pakaian ketat membawa botol bir dan melayani beberapa pria berpakaian formal. Aziz mengikuti Kazama menuju salah satu sofa.
"Kau resmi diterima." kata Kazama sambil meraih gelas berisi koktail berwarna merah muda.
"Tempat apa ini?" tanya Aziz. Matanya tak berhenti menatap gadis-gadis Jepang yang berwajah manis dan bertubuh seksi.
"Kau suka?" tanya Kazama.
"Em.."
"Tiga lantai diatas bisa kau gunakan. Bawa saja gadis-gadis itu."
"Siapa orang-orang itu?" tanya Aziz sambil menunjuk beberapa orang berpakaian formal.
"Pembunuh bayaran, perampok, dan bandar judi." kata Kazama "Setiap hari mereka berpesta."
"Ini villamu?"
"Ya. Cukup indah kan?" tanya Kazama.
Aziz manggut-manggut, lalu ambil sebatang rokok panjang dari meja. Ia hendak menghisapnya ketika Kazama memperingatkan
"Marijuana. Jangan dihisap."
Aziz menaruh kembali rokok itu ke meja. Lalu meraih sepotong kue cokelat dari piring. Tampaknya enak. Apalagi parutan keju dan susu menghiasi kue itu.
"Soal tadi. Kau kenapa tidak mati saat ditembak?" tanya Kazama.
"Sulit menjelaskannya. Tetapi akan kuceritakan apabila kau mau dengar." kata Aziz.
"Tentu saja." Kazama manggut-manggut.
Aziz mulai menceritakan pengalamannya. Malam semakin larut. Musik mulai berganti menjadi jazz. Beberapa orang gadis mulai naik ke lantai atas untuk tidur.
"Begitulah." kata Aziz mengakhiri pengalamannya.
"Menarik." kata Kazama "Kalau soal pembunuh bayaran, kau terlalu kuat."
"Jadi?" Aziz mengerling.
"Aku mengendalikan peredaran gadis dan perdagangan wanita di Tokyo, bahkan Jepang dan Korea." kata Kazama.
"Nah," Kazama memegang dengkul Aziz.
"Kau gay?"
"Maaf." kata Kazama "Kau ingin ikut andil dalam kelam kehidupan di Jepang?"
"Aku ingin uang." jawab Aziz.
"Besok kau mau ikut jalan-jalan ke Malaysia? Aku ada teman disana."
"Ntapps..Leh uga."
---
Kuala Lumpur, Malaysia.
Kedai kopi modern itu tampak sepi. Mungkin karena hari kerja. Tapi ada seorang pria berkemeja putih tampak sedang menunggu seseorang. Berulang kali ia menengok ke luar dengan cemas.
Udara yang panas ini membuat ia membuka dua kancing kemejanya, lalu memesan capuccino dingin. Jarum jam terus melaju. Tak perduli ia mau atau tidak.
Matanya tampak berbinar ketika ia melihat sebuah sepeda motor Harley Davidson CVO terparkir di luar sana. Betapa senangnya ia ketika melihat pengendara motor itu membuka helm. Tepat sekali. Dialah orang yang ditunggu-tunggu.
Beberapa waktu kemudian lelaki berambut panjang sebahu masuk ke kedai. Ia lalu menjabat tangan si pria itu dan duduk di dekatnya.
"Lama menunggu ya?" tanya si rambut panjang.
"Iya. Kupikir kau takkan datang." kata pria itu.
"Vin, kau masih jadi buronan di Filipina?" tanya si rambut panjang.
"Zivvin memang menjadi buronan di Filipina. Tapi namaku bukan Zivvin lagi." kata pria itu, lalu mengeluarkan kartu nama.
"Nama yang bagus. Abdul Bonaparte. Gila, dapat darimana kau nama sakral itu?" si rambut panjang membolak-balik kartu nama itu. Nama yang tertera disana adalah Abdul Bonaparte.
"Panggil saja Zivish. Aku rindu nama yang dulu." kata Abdul Bonaparte, kemudian bertanya "Bagaimana dengan namamu?"
"Masih seperti dulu. Baron Khiddin sang algojo." kata si rambut panjang.
"Dengan nama ini aku hampir digiring ke sel di Burma." kata Zivish.
"Ada urusan apa kau di Burma? Bukankah kita tidak menguasai daerah sana?" tanya Baron.
"Segitiga Emas." kata Zivish.
Seorang pelayan datang menanyakan pesanan.
"Luwak." kata Baron.
Pelayan itu kembali pergi.
Tak lama kemudian terlihat dua buah mobil sport terparkir di depan kafe. Pelayan datang kembali dengan secangkir kopi luwak panas. Baron tetap memandang ke luar. Zivish juga melihat kedua orang yang turun dari mobil sport itu.
"Siapa yang pake chevrolet itu?" tanya Zivish.
"Entahlah. Tapi aku suka mobilnya." kata Baron.
Dua orang itu masuk ke dalam kafé. Keduanya adalah Aziz dan Kazama. Mereka langsung saling berjabat tangan dan tak lupa Aziz mengenalkan diri.
Pelayan dengan segera datang.
"Frappuccino." kata Kazama.
"Wine." kata Aziz, lalu nyengir.
Pelayan itu tampak dongkol.
"Emm.. - Capuccino saja." kata Aziz akhirnya.
"Bagaimana bisnismu?" tanya Kazama pada Baron.
"Lumayan. Hari ini selama perjalanan aku mendapatkan 5 juta uang setoran." kata Baron diakhiri tawa lepas.
"Oh ya, kau di bidang apa?" tanya Zivish dengan ibu jari menuding Aziz.
"Peretasan, pembunuhan." kata Aziz.
"Dia membunuh lima Yakuza kemarin malam." kata Kazama "Karena itulah aku mengajaknya kesini."
"Jepang apakah sudah ketat soal syahwat?" tanya Baron.
"Hahaha.. Kalau ketat, mungkin aku sudah bangkrut." kata Kazama.
"Pantas. Anak buahku memiliki banyak video dari Jepang." kata Baron manggut-manggut.
"Begini. Tujuanku mengumpulkan kalian disini adalah untuk membicarakan soal bisnis." kata Kazama "Kita akan bisa mencengkram Asia. Kita berempat. Zivvin dengan bisnis opium dan heroin, lalu Baron dengan bisnis geng dan bodyguard, aku dengan pelacuran, dan Aziz sebagai pembunuh berantai dan pembunuh bayaran."
"Namaku Zivish."
"Maaf. Aku ingat namamu yang dulu."
"Bisakah kita menguasai Asia?" tanya Zivish ragu.
"Tentu saja. Makanya aku menyarankan kerja tim." kata Kazama.
"Kita berempat?" tanya Baron.
"Ya." jawab Kazama.
"Bagian mana yang kita taklukan duluan?" tanya Zivish sambil meneguk sedikit cappucinonya.
"Tokyo penuh oleh Yakuza. Oleh karena itu Jepang adalah target kedua. Sedangkan kalau Jakarta kita bakalan mampus duluan oleh Kopassus." kata Kazama.
"Silent killing." kata Aziz.
Ketiga orang memandang ke arah Aziz, yang ditatap hanya tersenyum, kemudian berkata "Yakuza kuat karena terdiri dari banyak anggota. Jika kita kurangi anggotanya maka kekuatan Yakuza akan melemah."
"Mustahil." kata Baron.
"Makanya aku bilang silent killing. Bunuh secara diam-diam. Kalau sudah lemah, maka kau bisa serang secara ramai-ramai." kata Aziz.
"Siapa yang akan jadi pembunuhnya?" tanya Zivish.
"Aku." jawab Aziz.
Ketiga orang itu terdiam. Ya, mereka bertemu seseorang asing, lalu berkata akan membantai Yakuza secara diam-diam.
"What the hell~" Baron melotot.
"Jangan remehkan dia." kata Kazama serius.
"Baiklah. Apa rencanamu selanjutnya?" tanya Baron.
Aziz menunjuk Kazama dengan tangannya. Kazama menghirup sedikit kopinya, lalu berkata "Menyusun tim."
Baron terlonjak. Kemudian bertanya dengan antusias "Ada yang tahu Four Horsemen of Apocalypse?"
"Ya. Itu bagian dari keyakinan umat Kristen." kata Zivish.
"Kita berempat adalah Four Horsemen of Apocalypse. Kalau di kitab diceritakan mereka adalah penanda akhir zaman, maka kita adalah penanda akhir dari zaman penuh cahaya. Kita akan menghiasi kriminal Asia." kata Baron bersemangat.
"Empat penunggang kuda ya.." pikir Zivish "Okelah."
"Sesuai dengan versi kitab, kita juga harus terbagi menjadi penunggang kuda hitam, putih, kuning, dan merah." kata Baron.
"Merah menunjukan perang. Putih menunjukan penaklukan. Hitam menunjukan kelaparan. Kuning menunjukan kematian." jelas Zivish.
"Aku bersedia menjadi penunggang kuda kuning." kata Baron "Aku berjanji siap menjadi pembawa kematian. Aku akan membawa maut."
"Aku berjanji menjadi penunggang kuda merah. Akan kuperangi Asia. Kuciptakan perselisihan. Kuperangi seluruh kelompok yang menghalangi." kata Aziz.
"Aku berjanji menjadi penunggang kuda hitam. Akan kusedot habis seluruh harta Asia hingga rakyatnya kelaparan." kata Kazama.
"Aku akan menjadi penunggang kuda putih, akan kutaklukan Asia. Kuinjak-injak dan kujadikan Asia dibawah kekuasaanku." kata Zivish.
Seketika suasana di sekitar mereka terasa membeku. Para pelayan tampak terpana. Bahkan seorang pelayan menjatuhkan gelasnya saat mendengar sumpah keramat itu.
"Ingin ke Tokyo?" tanya Kazama.
Baron kemudian berdiri, mengeluarkan pistol. Lalu menembaki para pelayan hingga mereka menjerit dan berlarian.
Keempatnya kemudian keluar dari kafe. Dengan nama baru. Dengan sumpah yang mengikat keempat penunggang kuda itu. Mereka melangkah, seolah ingin segera menaklukan Asia.
- Bersambung...
Next episode : Kembali kepada Eisel, Zero, dan Terra.
Keren ya serasa nonton film...Aroma jepangnya juga sgt terasa. Baron, Aziz, Kazama, Zivish ayo maju!
BalasHapusKeren nih part ada eisel tapi yg excexutor blm ya. Wah keren 4 penunggang kudanya
BalasHapus@Putra Artmedia,
BalasHapusMakasih gan, set emang kayaknya mau di Jepang sama Gaza selama seri Rise of Phoenix ini :)
@B0mb4ngJr,
Iya gan, team BHS kembali bangkit, executor saya niat mau delay dulu hihi. .. :D