Black Hack Squad - Rise of Phoenix 1 | Azi Satria

Black Hack Squad
Rise of Phoenix

Azi Satria

*

Sebuah kapal feri tampak membelah lautan dengan orang-orang yang antusias diatasnya. Ombak yang berdebur ketika menghantam lambung kapal tidak membuat penumpang takut, tapi senang dan mengabadikan momen itu dalam ponselnya.

Di salah satu sudut kapal seorang gadis cantik bermata biru tengah mandi sinar matahari dengan ponsel tergenggam di tangannya. Ia tampak menyedot sedikit jus jeruk di meja.

"Kringg.."

Telepon berbunyi. Ia kemudian mengangkatnya dengan penuh rasa antusias.

"Terra Carter disini."

"Aku Eisel."

Wajah gadis itu tampak semakin bahagia.

"Ada apa? Bagaimana kabarmu?"

"Aku perlu bantuanmu. Aku baik-baik saja di Palestina."

"Bantuan apa?"

"Kau dimana sekarang?"

"Aku di laut Madagaskar. Sedang menikmati wisata."

"Bisa kau kesini sekarang?"

"Hey! Aku sedang di tengah perjalanan."

"Aku mengirim agen wilayah Afrika Selatan kesana. Dia akan menjemput dengan speedboat."

Panggilan berakhir. Sekarang gadis itu menghabiskan sisa jusnya, lalu segera beranjak ke dalam kapal.

---

London, Inggris.

Lalu-lalang manusia itu semakin menambah kesan padat kota London. Toko-toko tampak penuh. Walau udara panas menyengat tak mengurangi antusias pengunjung kota itu.

Beberapa polisi tampak menjaga bazar komik dan kerajinan. Ibu rumah tangga membawa sayuran, anak-anak berlarian dengan permen memenuhi mulut, para pebisnis berpakaian rapi membawa koper, hingga remaja yang berburu diskon perhiasan memenuhi kota.

Di salah satu toko terlihat pengunjung berdesakan mengantri untuk komik edisi baru yang memang populer. Di luar toko, berdiri dengan tubuh bersandar ke tembok seorang lelaki bertopi boater hat dan berjas putih rapi asyik menyedot cerutu.

"Kringg.."

Wajah lelaki itu tampak kesal saat mendengar ponsel berdering di sakunya, walau akhirnya ia mengangkat juga.

"Zero Bond?"

"He-em." jawab lelaki itu.

"Ada tugas."

"Aku juga sedang bertugas di London."

"Tidak. Ini tugas arahan langsung dari Pietro."

"Eisel?"

"Ya. Ini aku."

"Dimana kau?"

"Palestina. Aku sedang berada di Gaza. Menjadi Pasukan Penjaga Perdamaian."

"Kenapa kau bisa ikut?"

"PBB menunjukku."

"Apa tugasku?"

"Kesini saja. Kau lacak panggilanku. Ada misi penting. Ini soal Lana dan Aziz."

"Bukankah Lana meninggal?"

"Tidak."

Satu kata dari Eisel membuat Zero Bond menutup ponselnya. Lalu bergegas mencari mobilnya.

---

Markas Utama Black Hack Squad, Moskow, Russia.

Pietro merenung. Ia terdiam menghadap layar monitar. Sebenarnya ia ragu untuk mengumpulkan Eisel, Zero, dan Terra ke Palestina. Tapi apa boleh buat.

"Eisel?" tanya Pietro.

Sempat hening, tapi kemudian satu suara menjawab dari komputer.

"Ya."

"Kau sudah berada di tempat aman?"

"Posisi aman. Markas Pasukan Penjaga Perdamaian berada di tempat yang sulit dijangkau Israel. Baik udara maupun darat."

"Kapan kiranya Zero dan Terra sampai?"

"Entahlah. Tapi ia akan sampai hari ini tampaknya."

Pietro menggigit bibir. Ia cemas. Amankah misi yang diberikannya?

"Pietro?"

"Ya."

"Sudahkah? Aku sedang mengikuti strategi pertahanan."

"I-iya."

Panggilan ditutup.

Pietro menjelajahi file di komputernya, ia membuka berkas video yang dikirim unit pengintai di Israel. Sebenarnya ia sudah berulang kali melihatnya. Tapi ia masih penasaran.

Video diputar.

Terlihat pemukiman penuh debu dibawah sana. Kamp tentara terlihat dengan puluhan militer yang sedang berlatih. Tapi, yang menarik di ujung dekat tempat istirahat, terlihat sesosok pemuda yang jelas sekali terlihat wajahnya, Lana.

Pietro melakukan zoom pada video.

Lana. Ya, pemuda yang dinyatakan meninggal dalam insiden pembunuhan Marquis Shax itu tengah bercengkrama dengan seorang kepala pelatihan militer. Tangan Lana tampak terbalut kain berwarna biru.

Pietro menelan ludah.

Ia membuka web browsernya, lalu membuka situs berita. Ia kembali melihat berita yang membuat jantungnya berdebar.

Begini ringkasan berita tersebut :

Four Horsemen, Para Pengatur Kriminal Asia.
Tokyo, Azisatria.com- Setelah beberapa waktu lalu publik Jepang geger dengan kematian puluhan anggota Yakuza yang dibiarkan menggelimpang di jalanan, kali ini Jepang kembali resah. Kepolisian Tokyo membekuk jaringan prostitusi yang terdiri dari berbagai negara Asia. Setelah mengetahui itu, polisi Tokyo akhirnya menangkap pemilik prostitusi tersebut.
Ketika ditanya soal dalang dibalik usaha haram tersebut, pelaku mengaku mendapat pasokan gadis yang diculik dari kelompok bernama Four Horsemen.
Esoknya, pelaku itu meninggal dengan leher putus oleh senjata tajam di selnya.

Four Horsemen. Artinya tugas baru untuk Black Hack Squad. Pietro tampak sangat tertarik sehingga ia mengumpulkan semua berkas mengenai Four Horsemen.

---

Dataran Tinggi Tibet

Matahari sepanjang hari membakar permukaan Tibet, malam pun hawa panas masih tersisa dan membuat lelaki berambut kuning itu mengipasi lehernya yang berkeringat.

Prince Vassago nama si rambut kuning itu. Ia duduk bersila menghadap seorang lelaki paruh baya berpakaian ala raja, dengan kalung, cincin, dan gelang emas memenuhi tubuhnya. Mereka ada di dalam sebuah rumah mewah dengan belasan penjaga dan puluhan pelayan.

"Kau tahan di sini? Udaranya kupikir sejuk." kata Vassago.

"Tak selamanya sejuk. Beberapa minggu musim panas memang seperti ini. Kau salah datang." jawab lelaki di depannya.

"King Balam, kau sudah lama tak berurusan dengan Devil Triangle." kata Vassago.

King Balam tersenyum, menampakkan barisan gigi emasnya, kemudian mengambil sepotong daging bebek bakar dari meja rendah di depannya.

King Balam mengunyah paha bebek bakar itu, kemudian berkata "Sejatinya aku mengendalikan peredaran marijuana dari sini. 70% ganja di Aceh aku yang punya, puluhan petani kugaji tiap bulan. Di Pantai Gading, Babylonia, dan Brazil aku juga memegang perdagangan."

Prince Vassago mengambil sepotong kue bertabur parutan keju, kemudian berkata "Aku yang luntang-lantung tak ada kerjaan."

"Bukannya kau meretas dan mencuri data?" tanya King Balam.

"Tidak. Beberapa kelompok mengambil alih." kata Vassago sedikit murung.

"Bagaimana dengan Shax?"

"Seperti biasa, ia memilih main aman. Ia jadi dewan ASFRE untuk Indonesia."

"Aku punya saran untukmu. Bagaimana kalau kau menguasai prostitusi dan pembunuh bayaran."

"Sebuah kelompok mengatasnamakan Four Horsemen telah menguasai perdagangan manusia, prostitusi, dan pembunuhan."

"Jadi kau benar-benar tak punya pilihan?"

"Begitulah."

Prince Vassago menunduk. Ia menatap jas hitam dengan sulaman emas di dada kiri King Balam.

King Balam menyulut rokok berwarna hitam pekat itu, kemudian berkata "Maaf. Aku tahu kau tak suka rokok."

"Ya." jawab Prince Vassago.

"Begini," kata King Balam "Di Jakarta ada seorang bandar heroin. Namanya Basri. Aku punya dokumennya. Kau bisa temui dia. Katakan kalau kau anak King Balam."

Prince Vassago menatap wajah pria itu.

"Kau bisa mendapatkan pengetahuan tentang perdagangan heroin. Untuk saat ini, Indonesia adalah negara dengan hukum terlemah. Kau beri hakim uang, maka penjara jauh dari hidupmu. Kau bisa memulai jaringan narkoba disana." kata King Balam.

"Aku ragu. Indonesia memiliki militer terbaik. Kopassus..-"

"Itu kalau kau berurusan dengan militer. Nah, pergilah agar Devil Triangle merajai lagi. Aku juga memasarkan ganja di internet."

"Terima kasih, Raja."

Prince Vassago bangkit, membungkukkan badannya pada King Balam.

"Kau bisa berkunjung kapanpun kau mau. Tibet selalu nyaman."

---

Markas Pasukan Penjaga Perdamaian, Palestina.

Eisel merapikan seragam corak hitam-cokelat militernya, lalu menghabiskan segelas cocktail di meja di hadapannya.

Ruangan kepala penyusun strategi ini terlalu sempit untuk Eisel, apalagi tumpukan dokumen dan buku-buku menambah sempit ruangannya.

"Trok. Trok."

"Masuk."

Pintu terbuka. Masuk seorang lelaki tegap dengan mata sipit dan map di tangan. Lelaki ini kemudian menghampiri Eisel.

"Bu, ini dokumen strategi penyaluran bahan makanan untuk warga Palestina hasil rapat Bagian C."

"Taruh di meja."

"Oh ya, Bu, ada dua orang ingin bertemu."

"Siapa?"

Lelaki itu mencoba mengingat, ia merenung sejenak, tapi kemudian berkata "Seorang anak 15 tahunan, dan seorang pria yang tampak seperti anggota militer."

"Suruh mereka ke sini."

"Baik."

Eisel menatap lelaki itu yang keluar dari ruangannya, kemudian perempuan ini mengeluarkan sebotol wine dari lacinya.

"We will not, go down..

In the night.. But our spirit will never die ..

Murdered and massacred night after night.."*)

Perempuan itu menggumam, berdendang lirih dengan lirik acak, sebelum hangatnya anggur merah membasahi tenggorokannya.

Bersambung...

Catatan :

Boater Hat topi jerami berbentuk segi empat, yang biasa dipakai tahun 1900an. Nih contohnya -> Klik

*) Lirik Michael Heart berjudul We Will Not Go Down, lagu untuk masyarakat Gaza

Komentar

  1. Eisel wanita hebat kepala penyusun setrategi perdamaian
    tp siapa yg datang ?

    BalasHapus
  2. @Ukhty Nur Maya,
    Cobaa tebakk :D

    BalasHapus
  3. bandar narkoba tahu banget titik kelemahan penegak hukum di indonesia makanya narkoba merajalela

    BalasHapus
  4. @Hermansyah,
    Iya. Hukum dibungkam uang.

    BalasHapus
  5. Satria Tujuh Salju10 Mei 2016 pukul 09.48

    waahh! siZeroBond meninggalkan london cuma karna ucapan Eisel tentang Lana yang masih hidup.. kira2 missi seperti apa yang akan dijalani oleh Zero Bond. :D oiya ini 007 apa 009 sob.. :mrgreen:

    BalasHapus
  6. wah...

    kalau difilmkan cerita ini, lokasi syutingnya jauh2 nuh sob.. butuh biaya besar...

    kecuali latar belakangnya pakai photoshop... mungkin bisa ngepress biaya.... :mrgreen:

    BalasHapus
  7. Anggota Yakuza banyak yang tewas ? Ga kebalik nich :) biasanya mereka kan yang membuat onar. Rupa Yakuza mendapat lawan sepadan

    Prostitusi berasal dari jaringan di Asia, sepertinya Indonesia berperan juga sebagai pemasok para gadis, miris.

    Kapan ya hukum Indonesia kuat agar para kriminal internasional tak berani melebarkan bisnisnya dinegeri ini

    ohya sudahkah naskah cerita ini di kirim ke penerbit agar dibuat novel atau jangan2 sudah dibuat novel. :)

    BalasHapus
  8. @Satria Tujuh Salju,
    007 aja deh hihi :D

    BalasHapus
  9. @4mrana,
    Nyari dana dulu :D

    BalasHapus
  10. @She Zhie,
    Belum bisa disebut sebagai cerita, mbak. Masih banyak kekurangan, besar kemungkinan ditolak penerbit :)

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer