Black Hack Squad - Rise of Phoenix 2 | Azi Satria
Bagian Dua
Azi Satria
*
Tanjung Priok, Jakarta.
Suasana siang ini semakin panas. Para kuli yang mendorong peti-peti kayu itu tampak sudah lelah. Keringat mengucur, kulit semakin hitam. Tangan mereka dengan cekatan memindahkan satu peti ke peti lainnya.
Di dekat sebuah peti panjang besar tampak seorang pria dengan jas abu-abu dan berkacamata hitam sedang bercengkrama dengan seorang kuli bertubuh tinggi besar.
"Sudah kau bereskan semua?" tanya lelaki berpakaian rapi itu.
"Su-sudah, pak." jawab si kuli tergagap.
"Apa kapal kedua sudah datang?"
"Belum, pak. Sekitar pukul 5 sore mungkin baru sampai. Dan.. Anu-anu pak.."
"Apa?"
Kuli itu menggesek-gesekan jempol dan telunjuknya. Gila. Uang tampaknya menjadi bahasa resmi seluruh manusia di muka bumi.
Pria itu mengeluarkan selembar uang seratus ribuan, kemudian menempelkannya ke kening si kuli.
Pria berpakaian formal itu menyeka keringat di dahinya, kemudian berjalan menuju jalan raya.
Masih seperti biasa. Truk-truk tinggi besar melintasi kota dengan muatannya yang padat, ojek berseragam hijau masih lalu-lalang, dan beberapa kendaraan plat merah melaju kencang dengan penuh keegoisan.
Pria itu mengeluarkan ponsel, kemudian menghubungi seseorang. Perlu waktu untuk dijawabnya panggilan itu.
"Hello?" tanya suara disana.
"Ya. Ini aku. Phoenix."
"Oh! Ada apa?"
"Ingat perjanjian kita?"
"Tentu saja.. Perjanjian Empat Bersaudara mana mungkin aku lupakan."
"Aku akan memulai menepati janjiku."
"Ah? Kau mau perang?"
"Ya. Kita kembali bertemu di Jakarta."
"Oke. Oke. Tunggu saja disana. Kirim alamat juga."
"Oke."
Pria itu menghela napas panjang, lalu memasukkan kembali ponselnya ketika sebuah mobil sport mewah berjenis Lamborghini Aventador datang ke hadapannya.
"Maaf lama, pak." kata sopir di dalam.
"Tidak apa-apa."
Pria itu menengok dahulu ke arah laut sebelum ia pergi dengan Lamborghininya.
---
Mari kuajak kau pada beberapa bulan sebelumnya...
Tepat setelah misi Double Agent(silakan baca BHS:Double Agent) berakhir, Aziz pulang sendirian dari Israel.
Sampai di Moskow, ia menceritakan semua kejadian yang dialaminya ketika membunuh Marquis Shax a.k.a Antonius. Mulai dari kematian Natalia hingga kematian Lana oleh bom.
Karena dirasa Aziz, Eisel, Zero, dan Terra sudah melakukan misi, maka Pietro membebas tugaskan mereka selama beberapa bulan hingga ada misi lainnya.
Zero Bond memilih untuk mengamati London kembali karena merasa punya tanggung jawab sebagai kepala bagian Inggris dan Irlandia. Sementara itu Terra Carter pergi pulang ke Republik Ceko, lalu pergi berwisata ke Madagaskar. Aziz Malik kembali ke Indonesia untuk kembali mengurus websitenya. Sedangkan Eisel ingin mengabdi pada PBB.
Nah, mari kita ikuti perjalanan Aziz Malik.
...
Waktu menunjukan pukul 7 malam. Aziz sampai di rumahnya dengan tubuh lelah dan pikiran semrawut. Sebenarnya bukan hanya pikirannya, tapi wajahnya juga semrawut. Dengan penuh rasa muak ia menjatuhkan tubuh ke kasur.
"Kringg.." berdering suara telepon.
"Laknat!" maki Aziz, tapi akhirnya ia mengangkatnya juga.
"Halo?"
"Aziz Malik disana?"
"He-em." jawab Aziz.
"Saya dari penyedia layanan hosting. Saya sudah menghubungi anda satu minggu ini, tetapi tidak bisa."
"Ya. Ada apa?" tanya Aziz bersungut.
"Maaf, Pak. Tetapi anda belum membayar sewa hosting satu bulan ini, sehingga kami terpaksa menutup website anda."
Aziz tampak kesal "Lah, kok gitu?"
"Ini ketentuan perusahaan, pak. Anda bisa membaca di Ketentuan Layanan di website kami."
Aziz melotot, lalu dengan penuh amarah ia membanting ponselnya ke lantai.
"Prang!"
Ponsel pintar itu pecah berantakan. Bukan lagi remuk, tapi benar-benar hancur. Pecahannya mental ke segala penjuru kamar.
"Goblok!" maki Aziz.
Lelaki ini menghela napas, kemudian menuju meja komputernya dengan tubuh lesu. Ia mengetik websitenya. Benar saja. Sudah tidak bisa dibuka.
Dengan mulut terus menyumpah, ia membuka rekening bank onlinenya. Halaman bank itu tutup.
'Maaf, kami menutup server karena beberapa peretas merusak database kami di Korea Selatan. Server akan pulih beberapa bulan.'
"Banggggsaaat!" Aziz menendang kaki meja.
Ia tahu. Yang mengakibatkan bank itu tutup adalah dirinya sendiri, yang menerobos gedung WEC tempo hari. Ia menelan ludah, harapan satu-satunya adalah bisnis online.
Ketika ia membuka web bisnis, ia kembali terkejut, ternyata hampir seluruh web bisnis terkena dampak serangan Devil Triangle dan belum pulih secara keseluruhan.
Aziz memukul-mukulkan tangannya ke kening. Ia tidak siap untuk kehidupan tanpa internet. Seluruh hartanya berasal dari internet. Ia akan mati perlahan tanpa internet. Tidak, jiwanya yang akan mati. Ia berpikir, mungkinkah setelah ini ia akan berada di rumah sakit jiwa atau pemakaman.
Ketika pikiran-pikiran putus asa itu menyerangnya, ia merasakan seluruh jiwanya bagai tersedot. Hingga akhirnya sebuah ide terlintas di pikirannya.
Ide itu begitu segar, bagaikan setetes embun yang mengalir di kerongkongannya dikala kehausan. Dengan segera ia membuka web browser Black Hack Squad. Dengan akun agennya, ia akhirnya bisa membuka sebuah halaman internet bernama 'Deep Web'.
Halaman itu berisikan animasi 3 dimensi berupa planet berwarna hitam, dengan puluhan konten dan judul di setiap sisi planet. Tak lupa juga, iklan-iklan prostitusi dan pembunuh bayaran terpampang jelas.
Ia melihat sebuah iklan yang menarik. Begini isinya 'Dibutuhkan Seorang Pembunuh Bayaran yang Siap Aksi Setiap Dibutuhkan. Transport Dibiayai Kami dan komisi per kematian'.
Sebuah nomor telepon di bawah iklan itu langsung ia hubungi.
"Halo."
"Ya."
"Aku ingin jadi pembunuh bayaran."
"Lokasimu dimana?"
"Jakarta."
"Kami ada di Jepang. Kau saja kesini. Kalau dirasa cocok, kau boleh ikut. Transport sendiri ya. Alamat nanti kami kirimkan."
Aziz tampak berbinar-binar. Ia merasa sangat siap. Apalagi Phoenix telah tertanam di tubuhnya.
"Bagaimana?" tanya suara di ujung sana. Membuyarkan lamunan Aziz.
"Oke. Aku kesana."
---
Suara decitan ban Chevrolet Camaro produksi tahun 1972 itu terdengar keras saat terparkir di depan sebuah bar.
Keluar dari dalam mobil itu seorang yang kita kenal sebagai Aziz Malik. Ia melangkah sedikit tergesa menuju pintu bar. Petugas keamanan yang berjaga disana menahan Aziz, lalu berbicara dengan bahasa yang tak dimengertinya.
"Apa sih? Wong edan." maki Aziz.
Satpam itu juga tampak kesal, ia mengambil sebilah nodachi. Lalu dengan penuh rasa muak, ia membuka sarung pedang Jepang itu. Aziz terkejut, ia mengangkat tangannya.
Satpam itu kembali bicara dengan bahasa Jepang. Aziz yang mulai kesal segera menelpon orang yang menawarinya pekerjaan.
"Hei."
"Oh. Kau sudah sampai?"
"Aku di luar bar. Ada satpam gila yang membawa pedang disini."
"Hahaha.. Sebentar. Aku ke sana."
Aziz menutup teleponnya, kemudian masukkan ponselnya ke saku dan memandang wajah si satpam dengan kesal.
Tak lama kemudian muncul dari dalam seorang pria dengan kemeja putih penuh bekas lipstik. Pria itu berbicara dengan satpam dengan bahasa Jepang, kemudian mengajak Aziz ke dalam.
Suasana bar ini sangat ramai. Lampu kelap-kelip yang menyemarakkan suasana itu mengingatkan Aziz pada masa SMAnya yang sering pergi ke bar untuk minum cocktail. Beberapa gadis berpakaian minim tampak menggoda para pengunjung yang sedang mabuk.
Pria Jepang itu mengajaknya menuju salah satu kursi. Ia memesan sebotol anggur pada pelayan.
"Suasana disini ramai ya?" tanya Aziz.
"Ya, tapi tak seramai di Fujiya Honten. Biasanya turis mengunjungi Fujiya Honten. Oh ya, aku Kazama." pria itu menjabat tangan Aziz.
"Sebelumnya kau pernah menjadi pembunuh bayaran?" tanya Kazama.
Aziz menggeleng, kemudian menjawab "Tidak. Tapi pernah menjadi seorang agen rahasia."
Kazama tampak senang, ia bertanya kembali "Untuk siapa?"
"Rahasia."
Kazama manggut-manggut. Ketika seorang pelayan mengantarkan sebotol anggur, Kazama membungkuk "Terima kasih."
Pelayan itu tampak senang, meninggalkan senyuman, lalu kembali ke dapur.
"Rekor membunuh?" tanya Kazama.
"Entahlah. Mungkin lima orang tentara." jawab Aziz.
"Aku perlu pembuktian terlebih dahulu." kata Kazama "Kau bisa membunuh malam ini?"
"Tentu saja."
"Dalam satu malam kau harus membunuh manusia. Berapapun yang kau sanggup bunuh. Makin banyak semakin tinggi kepercayaanku kepadamu."
"Kau akan mengamati?"
"Tentu. Kau bawa mobil?"
"Ya."
"Aku akan mengikutimu."
Kazama menuangkan anggur ke gelasnya, kemudian bersulang dengan Aziz. Suara musik terdengar semakin keras. Pengunjung tumpah ruah memenuhi bar.
Aziz dan Kazama keluar dari dalam bar, menuju ke tempat parkir. Terlihat satpam itu menatap tajam pada Aziz.
"Apa satpam disini memang membawa pedang?" tanya Aziz heran.
Kazama tertawa kecil "Bar ini milik Yakuza, mafia Jepang yang menguasai setiap pelosok negeri ini. Semua pegawainya Yakuza. Kalau siang dia membuka bajunya, memperlihatkan tato di dada dan perutnya."
Aziz membuka pintu Chevroletnya.
"Keren. Seorang pembunuh high class dengan mobil anting. Beli berapa?" tanya Kazama.
"Tiga puluh juta." jawab Aziz sambil menyalakan mobilnya.
Chevrolet perak itu melaju menembus kegelapan Tokyo. Di belakangnya, mobil sport Acura NSX berwarna merah mengikuti.
Aziz membuka ponselnya, mencari jalan dan gang yang sepi. Chevrolet itu berdecit keras saat membelok dengan kecepatan penuh menuju gang sempit.
"Gila. Apa yang dia lakukan.." maki Kazama. Mau tak mau pria ini ikuti juga Aziz menuju gang itu.
Aziz melihat ke depan. Terdapat lima orang lelaki bertelanjang dada sedang bermain kartu di jalanan. Mengetahui kedatangan Aziz, kelima lelaki bertato itu bangkit dari duduknya.
Aziz tersenyum melihat lelaki berambut pirang memamerkan tatonya dan melotot. Lama kelamaan Aziz tertawa, hingga ngakak tertawa terpingkal-pingkal.
Kazama menelan ludah. Gila! Berani mempermainkan Yakuza. Pikirnya.
Si rambut pirang tampak marah, ia berkata entah apa pada teman-temannya, kemudian mengambil pistol dari tanah. Mengarahkannya pada Aziz.
"Ayo, tembak!" gertak Aziz.
Si rambut pirang merasa diremehkan, ia lalu menembakkan timah panas itu ke kepala Aziz.
"Dor!"
Darah muncrat. Membasahi tanah. Kazama melotot, kaget tertahan. Sedangkan si rambut pirang menjatuhkan pistolnya tanpa sadar.
Bersambung..
CATATAN :
nodachi : pedang yang melengkung dengan panjang kira-kira 90-140 centimeter. Digunakan para samurai ahli.
Koktail (bahasa Inggris: cocktail) adalah minuman beralkohol yang dicampur dengan minuman atau bahan-bahan lain yang beraroma. Sebelum disajikan dalam gelas khusus koktail, minuman ini diaduk atau diguncang-guncang supaya bahan- bahannya tercampur. Minuman beralkohol yang sering dijadikan koktail adalah gin, wiski, rum, dan terutama vodka.
ditunggu lanjutanya gan
BalasHapussirambut merah di tembak
BalasHapus