Black Hack Squad : Double Agent 9 | Azi Satria [FINAL EP]
Black Hack Squad 9
Azi Satria
---
*
Pietro menelan ludah. Wanita itu masih bisa diandalkan. Pikirnya.
Zero menggebrak meja "Bodoh! Kenapa dibunuh! Tak dengar komando, hah?!"
Terdengar makian Aziz dari telepon. Semua kalimat kotor yang ada di dunia telah ia hamburkan. Hingga..
"Dor!"
Terdengar suara tembakan. Hening sesaat.
Terra kucurkan keringat dingin. Matanya tak berhenti menatap layar komputer. Walau layar itu tidak menampilkan keadaan di dalam rumah.
"A.. Apa yang terjadi?" tanya Eisel.
"Hahahahaa.."
---
Apa yang terjadi?
Setelah Aziz memaki-maki, muncul seorang lelaki dengan pakaian serba merah. Lelaki ini acungkan tangan dengan pistol di genggaman tangan.
"Dor!"
Lana tegak tak bersuara, bahkan mulutnya susah diajak bicara. Peluru itu mendesing dan menembus tubuh Aziz di bagian dada kiri.
Hening sesaat.
"Hahahahaha..." Aziz tertawa keras, lalu balik acungkan revolver dan mengarahkannya ke kepala si merah.
Lelaki itu tak bisa berbuat apa-apa, apalagi ia masih terpana dengan Aziz.
"Dor!"
Desing peluru itu seolah menyadarkan si merah dari lamunannya. Ia segera menghindar, tapi sayang, timah panas itu keburu menembus bahu kirinya.
"Ziz!" kata Lana.
Aziz menepuk bahu Lana "Aku tidak apa-apa."
Double agent itu kemudian berlari menyerbu ke dalam rumah. Mereka melihat rumah bercat cokelat itu tampak megah dengan hiasan terpajang dimana-mana.
Double Agent menaiki tangga pualam itu menuju ke lantai atas. Dengan penuh kehati-hatian mereka mengintip lewat lubang kunci.
Di dalam kamar itu terlihat seorang pria botak sedang duduk sambil mulutnya menghisap rokok.
"Itu dia." bisik Lana.
Aziz dengan segera membuka pintu, lalu todongkan senjata.
"Brakk!"
Pria botak itu tertawa kecil, lalu hisap kembali rokoknya dan menyapa "Selamat pagi."
"Gila." maki Aziz, lalu bertanya lewat mikrofon.
"Bunuh si botak?"
"Kami ingin ia dibawa hidup-hidup. Tapi mati juga tak apa."
Aziz mendengus, ia angkat senapannya, lalu menarik pelatuk.
"Dor!"
"Trang."
Peluru itu tidak mengenai pria botak. Mengenai lantai, lalu memantul kembali.
"Apa-apaan ini?" tanya Lana.
Aziz menembak sekali lagi.
"Dor!"
Peluru itu mental kembali.
Aziz mendengus marah, tapi si botak terkekeh geli.
"Pasukan mana ini? Menembak saja tak becus!" kata Antonius diakhiri tawa bergelak.
"Sialan!" maki Aziz, lalu memberondong pria yang duduk di kursi roda itu dengan seluruh peluru yang ada.
Pria itu tetap tak bergeming. Malahan ia makin ngakak tertawa.
"Sialan! Pusat! Disini ia tidak bisa ditembak!"
---
Zero mengkernyitkan kening, kemudian mendengarkan suara dari double agent.
Benar saja. Terdengar tembakan yang tak henti-henti memuntahkan peluru dari moncong senapan. Zero memijit-mijit keningnya. Aneh.
"Lekas beritahu aku!" teriak Aziz di speaker.
Manusia yang tak bisa ditembak. Pikir Zero. Ia tak percaya takhayul. Tapi kejadian ini mempengaruhi pemikirannya juga.
"Kau yakin kena?" tanya Zero.
"Sialan! Kau pikir aku tak becus menembak?!" tanya Aziz setengah gusar.
Zero menatap Eisel.
"Entahlah. Tapi aku tidak yakin ia menggunakan sihir." kata Eisel saat Zero memandangnya seolah memiliki pertanyaan besar.
"Huh. Kau pikir aku percaya?" tanya Zero.
"Tidak. Tapi mereka dekat sekali dengan sihir."
"Kau percaya sihir?"
"Aku percaya pada sesuatu yang bisa diterima akal sehat. Dan aku masih sehat."
"Lantas. Apa yang terjadi?"
"Kenapa kau tanya padaku?"
"Kau pernah mengabdi pada Devil Triangle. Sedikit banyaknya kau pasti mengetahui tentang mereka."
Eisel terdiam. Ia memang pernah mengabdi pada Prince Vassago. Tapi soal manusia tak bisa ditembak.. Ah, ia belum mengetahuinya.
"Hologram!" teriak Zero tiba-tiba.
Pietro dan Eisel memandang pada Zero.
"Apa?" tanya Aziz.
"Hologram! Mungkin ia hanya hologram!"
"Tidak mungkin..."
---
Aziz menaruh senapannya di lantai. Kemudian berlari menerjang pria tua itu.
Tangannya dikepal keras, hingga saat mereka sudah dekat, ia hanya tinggal melepaskan pukulannya.
Tiba-tiba..
Pukulannya mengenai udara kosong. Sosok di kursi itu sama sekali tidak terkena.
"Sudah menyadarinya ya?" tanya Antonius, ia hisap kembali rokoknya, menatap Lana dengan tajam, lalu menghilang.
"Sialan! Benar-benar sialan!" maki Aziz.
Lana menghampiri Aziz.
"Dimana dia?" tanya Lana.
"Kita serang seluruh kamar." kata Aziz, ia lalu berlari tergesa keluar kamar, meninggalkan senjatanya yang tergeletak begitu saja di lantai.
Lana mengikuti Aziz dengan senjata di tangan. Mereka tiba di lantai bawah. Terdapat empat kamar disini. Mereka mendobrak kamar dengan tulisan ibrani menghiasi pintu.
"Brakk!"
Mereka kembali menjumpai ruangan kosong. Dengan berbagai patung menghiasi setiap sudut ruangan itu.
Mereka kemudian keluar, menghampiri kamar lain. Begitu seterusnya hingga semua kamar di lantai bawah telah mereka jumpai dengan keadaan kosong.
"Semua ruangan kosong!" teriak Aziz kepada pusat.
---
"Tunggu! Kami sedang berusaha membobol keamanan rumah itu." kata Pietro.
Zero mencoba membobol sandi pelindung jaringan rumah Antonius. Semua berjalan lancar hingga ia harus mengenskripsi data keamanan dan denah rumah.
"Tidak berjalan dengan baik. Data dokumen denah ini menggunakan bahasa ibrani." kata Zero.
Eisel menatap layar.
Tertera sebuah aksara Ibrani "הֹמֹלְׁש".
"Salomo." kata Eisel.
Di bawah aksara ibrani itu ditulis pula 72 nama dengan huruf ibrani. Dengan perlahan Eisel melihat huruf-huruf itu.
"Tekan 44." kata Eisel.
Ketika angka 44 ditekan, muncul sebuah logo segitiga, titik segitiga paling atas terlihat berwarna merah.
"Apa ini?! Apa pula 44?" tanya Zero.
"44 adalah nomor urut bagi Marquis Shax dari 72 iblis." kata Eisel.
Hening. Mereka terdiam dalam kebingungan.
Tiba-tiba Eisel merasa menemukan jawabannya.
"Tekan 03 dan 51!"
Zero menekannya. Ia kini melihat segitiga di layar berwarna merah seluruhnya. Kemudian terbuka satu dokumen berisi aplikasi.
Zero membukanya. Kini layar menampilkan denah rumah. Dengan beberapa titik merah tampak.
"Dua titik merah itu Aziz dan Lana!" kata Terra.
"Lalu... Nah!" Zero berbinar-binar.
---
Aziz segera berlari menuju ke lantai atas kembali setelah menerima komando dari Zero Bond.
Double Agent itu segera mendobrak sebuah pintu berukir naga. Tapi sia-sia karena pintu itu tidak terbuka.
Mereka menempelkan bom di pintu, lalu menghindar, menempelkan tubuh pada dinding.
"Duarr!"
Bom meledak. Dengan serpihan pintu melayang dan pintu sudah menganga, terbuka lebar.
Double agent segera masuk ke dalam ruangan. Aziz mendelikkan mata.
*
Ruangan itu dipenuhi bau bubuk mesiu. Lantainya berukir relief, dindingnya penuh oleh berbagai lukisan menyeramkan, manusia setengah unta, burung bertubuh manusia, dan simbol-simbol dengan bahasa ibrani.
Di tengah ruangan duduk Antonius alias Marquis Shax dengan mata menyorot tajam pada dua orang yang datang. Di dekatnya duduk empat orang lelaki berotot kekar yang memakai pakaian merah.
"Selamat pagi." kata Shax.
Seorang pengawal berbaju merah tiba-tiba menyerang Aziz dengan pukulan dan tendangan, yang satu datang juga dengan pedang terhunus hendak menyerang Lana.
Aziz merasakan seluruh tubuhnya menjadi ringan, ia menghantam kepala pengawal itu dengan tendangannya. Si pengawal tersungkur jatuh, saat ia hendak bangkit kembali, Aziz hantamkan tumitnya ke tengkuk orang itu hingga ia pingsan seketika.
Lana juga kepayahan menghadapi orang dengan pedang itu, ia mencoba berkelit, namun hampir saja lehernya terkena pedang. Lana kemudian menghantam kepala pengawal itu berkali-kali dengan tangan kirinya. Karena tangan kirinya yang berwarna biru itu bertenaga besar, maka saat ia memukul pengawal, orang itu langsung terkapar dengan kening rengkah.
Dua pengawal lainnya giliran maju. Mereka melancarkan beladiri Krav Maga(beladiri khusus militer Israel), namun harus menelan pil pahit. Dua pengawal itu mati dengan mengenaskan. Yang satu lehernya tertancap belati, yang kedua kepalanya diputar ke belakang.
Shax tertawa bergelak.
Double Agent yang sudah merasa lelah mendengus marah.
"Tak ada gunanya kalian membunuhku. Gelar Marquis Shax akan kuturunkan segera untuk orang lain. Pulanglah, bocah."
Diejek demikian, Aziz segera cabut belati dari saku sabuknya.
"Kalaupun aku kalian bunuh, kalian juga bakalan mati." kata Shax, lalu tertawa keras.
Lana dan Aziz segera melompat ke depan, lalu Aziz cekik leher pria itu hingga Shax megap-megap.
Dengan penuh kebencian, Aziz lalu memegang keras leher Shax, ia kemudian memutarnya perlahan.
"Krek. Krek."
Shax menjerit keras. Tapi nyawanya tak tertolong saat Lana menikam lehernya dengan belati.
"Ziz." kata suara dari pusat.
"Ya?"
"Ambil dokumen-dokumen dari sana."
Aziz kemudian menuju rak kayu, memilah-milah beberapa manuskrip tebal dan lembaran-lembaran tua kertas.
"Ti.. Tidak! Ziz! Keluar dari sana!"
"Hah?"
"Lekas keluar! Ada bom waktu tertanam disana!"
"Tak bisakah kau retas itu?"
"Tidak. Itu bom rakitan."
Dengan sisa tenaga yang ada, double agent kemudian berlari dari ruangan itu, menuruni tangga dengan keadaan tak karuan, lalu menerobos pintu belakang dengan cepat.
Aziz melompati tembok dengan mudah, lalu berlari menuju gang. Keringat dingin mengucur, ia mendekap erat dokumen di dadanya.
"Duarrr!"
Saat ledakan terdengar dan asap membumbung ke langit, ia baru menyadari, Lana tertinggal.
*
Bombang menatap jenuh kota Jakarta. Ia menghirup debu polusi. Rasanya hidupnya takkan bertahan lama. Penyediaan lapangan pekerjaan hanya bualan semata.
Ia kembali berjalan dengan jiwa tertatih. Ia ingat keluarganya di Jawa Tengah. Jangankan untuk keluarga, untuk dirinya saja ia tak mampu mencari uang.
Hingga akhirnya ia menemukan inspirasi. Dibelinya dua belati, sepucuk pistol, dan menyelipkan jarum di saku bajunya. Ia hendak menempuh hidup. Walau ia tahu, jalannya penuh darah, tebasan belati, dan desingan peluru.
Jangan sedih dulu kawan. Setelah Double Agent berakhir, saya masih memiliki beberapa cerbung lanjutan,.
Pertama adalah The Last Killer, lalu trilogi(entah pentalogi) Pencuri Takdir, Return of The Phoenix, dan beberapa lainnya.
Oh ya, lanjutan seri ini mungkin antara The Last Killer atau Return of The Phoenix.
Apakah Lana masih hidup? Bagaimana dengan Prince Vassago? Tunggu di serial selanjutnya!
Lha yang BHS utama? Bombang bunuh diri wkwkwk?
BalasHapus