Black Hack Squad : Double Agent 8 | Azi Satria

Black Hack Squad 8

Azi Satria

---

Lana menggaruk lehernya yang terasa gatal oleh rompi kasarnya. Matanya mulai memerah dan desiran halus angin malam seolah membuainya agar menutup mata menuju alam mimpi.

Aziz mengetuk-ngetuk jarinya ke badan senapan. Matanya yang mulai lelah memandang terus tanpa berkedip.

"Aziz!" panggil suara di earphone.

"Apa?"

"Batalkan misi. Helikopter menuju ke sana."

Lana lekas menatap Aziz.

Aziz bertanya lagi. Jawabannya tetap sama. Misi dibatalkan.

---

Pietro menunggu hasil dari Aziz dan Lana dengan cemas. Ia terus mondar-mandir dengan wajah tegang.

"Mini drone kita telah berhasil melewati keamanan ASFRE. Hasilnya, Dewan Indonesia tiada." kata Terra dengan mata tak lepas dari komputer.

Pietro terhenyak.

"Kita harus tarik kembali double agent." kata Terra.

"Ya, itu usul yang tepat." tambah Zero.

Pietro semakin pusing, lelaki ini usap-usap kumisnya, lalu menghampiri Terra.

"Yakin tidak ada?"

"Sumpah mati!"

Pietro makin bingung. Tidak. Ia makin gila. Hingga satu telepon masuk.

---

Malam semakin larut. Begitu juga gulu merah di kopi hitam kesukaan Bombang itu larut di keheningan malam. Natalia tampak keluar dari kamar.

Bombang masih asyik menonton berita yang disiarkan di televisi berlayar besar itu, walau ia tak paham benar bahasa Ibrani.

Televisi itu menyiarkan berita perang. Misil balistik yang meluncur dari bawah tanah, senjata terbaru untuk tentara Israel, hingga menampilkan celana dalam anti peluru.

"Negara ini penuh perang ya." kata Bombang.

Natalia menghampiri Bombang dan duduk santai di sofa tempat lelaki itu duduk. Natalia tersenyum, kemudian berkata "Tidak hanya disini. Di negaramu perang sedang berlangsung. Penindasan tepatnya."

Bombang menatap Natalia dengan heran. Ia sama sekali tak percaya pada Natalia.

"Perangnya tidak berbentuk. Tapi jelas sekali antara si kaya dan si miskin, pejabat dan rakyat jelata." kata Natalia, lalu mengambil kacang goreng dari toples di meja.

"Kau paham Indonesia lebih dari aku." kata Bombang.

"Aku mengawasi seluruh Asia Tenggara. Tak ada yang bisa lepas dari pengawasanku." kata Natalia dengan nada bangga dalam ucapannya.

Tiba-tiba perempuan ini melotot, lalu berdiri dan meninggalkan Bombang menuju ke luar rumah.

---

"Natalia?" tanya Pietro.

"Ya. Ini aku." jawab Natalia di ujung telepon.

Sesaat tiada yang bersuara. Hanya deru hujan yang terdengar.

"Kau dimana?"

"Tanah Israel."

"K-Kau.."

"Ya. Aku memang berkhianat pada kalian. Mohon maaf. Mungkin ini adalah pengabdianku yang terakhir. Aku hendak mengatakan jika Shax ada disini."

Pietro memijit kening. Siapa itu Shax.. Ia mencoba mengingat.

"Shax. Salah satu pemimpin Devil Triangle." kata Eisel sambil memandang Pietro yang kebingungan dengan tangan menggenggam ponsel.

"Dimana.. Dimana Shax?"

"Israel. Kau lacak ipku, lalu kau akan temukan aku bersama Shax. Cepatlah. Sebelum ia membuat onar lagi."

Lalu Natalia menutup teleponnya. Pietro segera mengirim helikopter untuk membatalkan misi Double Agent dan membawa mereka menuju Israel.

---

Aziz bangkit, lalu menggerutu ketika ia melihat helikopter yang membawanya tadi telah terbang rendah di gedung sebelahnya.

"Sialan! Untuk apa kita diam disini sampai malam?" maki Aziz sambil tendang salah satu peti kayu.

Lana juga bangkit, lalu diam di belakang Aziz.

"He, kampret, ngapain kau dibelakangku? Seolah menyuruhku duluan." maki Aziz, lalu pegang tengkuk Lana seperti memegang kucing.

Lana mau tak mau harus meloncat duluan. Dengan berguling, ia sampai di gedung tempat helikopter berada. Aziz mengikuti dengan lompatan lebih tinggi.

"Bruk."

Aziz kembali merasakan tulang punggungnya berdenyut sakit. Tapi akhirnya berdiri juga, lalu meloncat ke atas helikopter.

Lana mengikuti dengan ketakutan melanda, walau akhirnya ia sampai juga ke atas helikopter.

Helikopter kembali menderu. Dengan suara yang memekakan telinga, helikopter itu terbang menjauh. Semakin jauh.

---

"Hei, darimana saja kau, panda?" tanya Bombang. Tangannya menggenggam penuh keripik pedas.

Natalia tidak menjawab. Wanita itu menghampiri Bombang dengan pakaian basah kuyup.

"Kita harus bicara."

*

Bombang merasakan rintik air hujan itu membasahi tubuhnya, walau ia berada di dalam sebuah bangunan kecil - mungkin pos ronda- bersama dengan Natalia.

"Kita tidak di pihak Antonius." kata Natalia.

Bombang mengernyitkan kening.

"Aku di pihak Black Hack Squad. Kau juga" kata Natalia lagi.

Bombang bersandar ke dinding, kemudian bertanya "Apa untungnya aku ikut-ikutan?"

"Bodoh. Harusnya aku yang bertanya, untuk apa dulu kau ikut-ikutan Anonymous?" balik bertanya dengan gusar Natalia.

"Kau tahu, penghasilan sebagai web designer itu sedikit. Saingannya banyak." kata Bombang, lalu menatap hujan yang kian deras.

"Kau segeralah pergi dari sini." kata Natalia, lalu berikan Bombang selembar tiket pesawat.

Bombang menatap heran wanita itu.

"Kemana?"

"Ini tiket menuju Jakarta. Kau bebas mau kembali pada Anonymous atau Black Hack Squad."

Bombang semakin heran.

"Lekas pergi. Besok aku tak bisa menjamin nyawaku masih menempel dalam raga atau tidak." kata Natalia, mengusap bahu Bombang.

"T.. Tapi.."

"Ini berbahaya. Kau bersembunyilah di Jakarta sampai keadaan tenang. Jika ada umur, aku akan mencarimu." kata Natalia, lalu berjalan menuju derasnya hujan.

"Kau.." gumam Bombang. Menatap tiket di tangannya, lalu memandang Natalia sampai wanita itu masuk ke dalam rumah mewah Antonius.

---

"Dasar bodoh! Menerjunkan agen tanpa perencanaan misi." maki Aziz, lalu menendang kursi pilot.

"Hei, bung. Tenanglah." kata pilot itu merasa terusik.

Hujan yang deras dan tiupan angin membuat sang pilot terbang dengan kecepatan tinggi.

"Bodoh! Kenapa ngebut?!" maki Aziz.

"Tenang. Takkan terpeleset kok." jawab pilot santai, disambut gerutu Aziz.

Tak berselang lama. Pukul 4 pagi waktu Israel, mereka sudah tiba di atas perumahan megah. Langit yang cerah sudah ingin muncul menindih gelapnya dinihari.

"Menurut komando, kalian turun di.. Sini." kata pilot, ia merendahkan helikopter.

Aziz menepuk-nepuk pipi Lana yang masih tidur. Karena belum bangun, ia menghantam wajahnya dengan ujung senapan.

"A.. Apa?" Lana kebingungan, rohnya belum terkumpul benar.

"Turun, bodoh." kata Aziz.

Lana menatap gamang ke bawah. Di bawah sana ada bangunan tak terurus dengan tembok-tembok gang yang penuh coretan dan lumut.

"Bruk."

"Bruk."

Dua tubuh jatuh bergulingan. Sesaat kemudian helikopter telah meninggalkan kawasan itu dengan suara memekakkan telinga.

Aziz mengendap perlahan diikuti Lana, ia melongok dari balik tembok. Tiada siapa pun. Dengan langkah perlahan dan senjata siaga mereka melewati gang itu.

Bau busuk menyeruak, memenuhi udara yang lembab ini. Di ujung gang, Aziz melihat sebuah tembok dengan tinggi 3 meter.

"Bor listrik." kata Aziz.

Lana menyerahkan alat berwarna biru itu. Lalu dengan cekatan Aziz menyingkirkan lumut dan segera mengebor permukaan tembok.

Tidak ada suara. Peralatan Black Hack Squad memang sangat lengkap. Apalagi untuk agen-agennya yang hendak melakukan misi berbahaya.

Tak lama kemudian, tembok itu telah berlubang sebesar ujung jempol. Aziz mengintip keadaan lewat lubang itu.

Berderet rumah-rumah mewah dengan kolam renang pribadi, penjaga keamanan di setiap rumah, dan tumbuhan-tumbuhan penghias yang menambah kesan elegan.

Rumah-rumah itu berjumlah 8 buah, dipisahkan oleh jalanan yang bersih. Empat rumah di kiri dan empat di kanan.

Aziz kembali mengebor tembok itu. Membuat dua lubang yang berdekatan.

Aziz lalu menaruh senapan. Moncongnya ditaruh di lubang pertama, dan lubang di atasnya ia gunakan untuk memantau dari lensanya.

"Bruk."

Tanpa suara. Seorang penjaga rumah telah ambruk dengan leher berlubang. Kontan saja semua penjaga panik.

"Cepat kau buat lubang juga. Habisi mereka." kata Aziz.

Lana kebingungan, tapi akhirnya ia melubangi tembok juga.

"Apa nggak akan ketahuan?" tanya Lana saat ia selesai membuat lubang kedua.

"Makanya aku menyuruhmu cepat." kata Aziz menggerutu.

"Bruk."

"Bruk."

"Bruk."

Tiga penjaga telah mati tersungkur. Tanpa erangan. Tanpa desingan peluru.

"Ayo pergi." kata Aziz, lalu gendong kembali senapannya saat empat penjaga sudah mencurigai mereka.

Lana mengikuti Aziz kembali ke gang tadi, berbelok ke kiri. Terdapat sebuah tembok rendah yang membatasinya dengan belakang perumahan.

Aziz melompat, lalu berlari menuju belakang sebuah rumah diikuti Lana.

---

Zero melihat keadaan di Israel lewat mini drone yang melayang di atas perumahan mewah itu.

"Ada apa dengan si Aziz itu.." gerutu Zero saat ia melihat Aziz menembaki para penjaga.

Pietro yang diam di belakang Zero juga tampak geleng-geleng kepala "Kalau begitu kejadiannya kita nggak perlu kirim penyusup. Serang aja rame-rame."

"Nggak begitu." kata Eisel "Itu pancingan saja. Nanti setelah ada warga yang keluar rumah, mereka langsung serang."

"Hey, mereka ga akan keluar rumah. Pastinya disuruh tetap di dalam oleh penjaga." kata Zero.

"Ya, untuk itulah mereka berdua langsung berlari menuju rumah. Ketika para penjaga berkumpul, maka rumah kosong. Makanya mereka langsung memanfaatkan keadaan." papar Terra. Gadis ini tampak mengamati setiap pergerakan Aziz dan Lana lewat komputernya.

"Hey? Yang ini bukan?" terdengar suara dari Aziz.

"Ya! Masuk saja." jawab Pietro. Matanya masih tertancap pada layar di depannya.

---

Aziz langsung membantingkan tubuhnya ke pintu belakang ketika Pietro mengiyakan.

"Brukk."

Pintu tetap terkunci.

"Sialan!" maki Aziz, lalu menendang pintu itu sekuat tenaga.

"Brukk."

Tetap pintu masih ada di tempatnya. Malah ujung kaki Aziz terasa berdenyut.

"Perhatikan baik-baik. Kau pikir orang kaya akan memakai pintu kayu?" tanya Lana.

Aziz tampak bingung juga. Tapi jelas pintu di depannya itu pintu kayu. Dengan warna cokelat tua tampaknya itu kayu kokoh.

"Ziz." terdengar suara dari earphone.

"Ya?"

"Itu adalah pintu dari logam sheen, hanya saja dicat seperti kayu."

Aziz manggut-manggut. Ia kemudian menemukan sebuah tombol di ujung kiri pintu.

"Disini ada tombol untuk sandi." kata Aziz.

"Angka?"

"Ya."

---

Terra tampak kebingungan. Sandi. Sebuah kata sandi yang berhubungan dengan Antonius.

Eisel juga tampak berpikir keras, ia memijit-mijit keningnya. Kemudian ia menemukan jawabannya.

"Terra. Coba kau cari di internet tentang Ars Goetia." kata Eisel.

"Ars goetia?" tanya Terra sambil mengetikkan kata-kata itu di mesin pencari.

Ia akhirnya menemukan sebuah tulisan dengan bahasa Ibrani. Dan sederet daftar nama-nama dengan bahasa yang aneh dan terkesan konyol.

"Cari Marquis Shax." kata Eisel.

Dengan fitur pencarian, ia akhirnya menemukan Marquis Shax. Berada di urutan 44.

"Ya. Aziz, masukkan sandi 44." teriak Eisel.

Terlihat di layar jika Aziz sudah berhasil membuka pintu dan masuk ke rumah mewah itu.

"Apa maksudnya Ars Goetia dan .. Shax?" tanya Terra.

"Devil Triangle dipimpin oleh tiga orang. Pertama adalah Prince Vassago, kedua King Balam, terakhir adalah Marquis Shax. Sejak dulu gelar-gelar ini tidak berubah. Hingga Antonius mendapatkan gelar Shax. Dalam kitab kuno King Solomon, ketiga nama itu merupakan nama demon/iblis diantara 72 demon." jelas Eisel, disambut anggukan Terra yang tampak terkagum-kagum.

"Orang bodoh ini memasang pintu lagi." kata Aziz dari telepon.

"Tulis lagi saja sandinya." kata Pietro.

"Tidak bung. Pintunya dari baja. Kalaupun pake bor, memerlukan waktu lama dan si empunya rumah keburu keluar."

"Sebentar." kata Pietro, kemudian menghubungi Natalia.

"Red Cat?" tanya Pietro.

"Ada apa?"

"Buka pintu belakang. Double agent kami kirim kesana."

"Oh-ya, siap."

---

Aziz harus menunggu beberapa menit sampai pintu terbuka. Mata Aziz tampak melotot, dikobari api yang begitu besar.

Dengan penuh amarah Aziz mencabut pisau belati dari sakunya, lalu menusuk dada perempuan itu.

Natalia merasakan dadanya panas luar biasa. Darah menyembur dari mulut dan dadanya.

"Jalang sialan!" maki Aziz.

Natalia tampak megap-megap. Tenggorokannya dipenuhi darah sehingga ia terbatuk dan hidungnya keluar darah. Tapi di akhir napasnya ia masih bisa tersenyum, di ujung belati anak didiknya.

Belati itu dilepaskan. Darah menyembur membasahi sebagian tubuh Aziz. Natalia ambruk ke lantai. Bersamaan dengan satu suara di earphone "Jika bertemu Natalia, jangan bunuh. Ia masih setia pada kita."

Bersambung..

Komentar

  1. Wkwkwk si aziz mah keren sangat langsung aksi.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer