Negara Lelah - Puisi Azi Satria dan Makna
Yaay! Kali ini ane mau membagikan puisi 'Negara Lelah' yang disertai dengan makna yang terkandung dari puisi itu dengan maksud agar pembaca bisa lebih paham dengan apa yang ane bagikan. Cekidot gan!
Ciamis, 08/07/'16
Sekarang mari kita bahas makna yang terkandung dalam puisi diatas.
Lihat baris pertama
"Aku benci"
Menunjukkan betapa benci dan muaknya ane pada kejadian yang akan dibahas pada baris-baris selanjutnya.
"Pada kutu-kutu loncat
yang mengganas di pohon beringin"
Seperti yang kita tahu, kutu merupakan hewan perusak. Kutu yang dimaksudkan disini juga perusak.
Pohon beringin. Mengacu pada pancasila, arti pohon beringin adalah 'Pohon beringin digunakan karena pohon beringin merupakan pohon yang besar di mana banyak orang bisa berteduh di bawahnya, seperti halnya semua rakyat Indonesia bisa " berteduh " di bawah naungan negara Indonesia. Selain itu, pohon beringin memiliki sulur dan akar yang menjalar ke mana-mana, namun tetap berasal dari satu pohon yang sama, seperti halnya keragaman suku bangsa yang menyatu di bawah nama Indonesia.' (Sumber cek : Sini)
Jadi yang ane maksud disini adalah para perusak persatuan bangsa ini. Kutu-kutu perusak bangsa Indonesia. Ada yang memecah belah bangsa, memprovokasi setiap rakyat. Masihkah kita hendak berdiam diri sedangkan realita tampak di depan mata?
"Pada tikus-tikus lapar
yang menggerogoti padi-padi"
Tikus, seperti yang kita ketahui, merupakan hewan rakus. Segala ia makan. Sabun mandi, padi, minum air got, air kencing. Pantaslah badannya gemuk-gemuk.
Padi, 'melambangkan sila kelima, Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Padi dan kapas digunakan karena merupakan kebutuhan dasar setiap manusia, yakni pangan dan sandang sebagai syarat utama untuk mencapai kemakmuran yang merupakan tujuan utama bagi sila kelima ini. '(Sumber cek : Sini)
Tikus-tikus yang menggerogoti padi-padi. Adalah perusak rakus yang serakah, makan uang rakyat, menggerogoti kemakmuran rakyat Indonesia. Sama seperti tikus, ia gendut-gendut. Tapi rekeningnya yang gendut.
"Pada siluman-siluman nafsu
yang menggerogoti pilar demokrasi"
Nafsu. Rasa-rasanya ane sering menyebut tentang nafsu, seperti dalam beberapa puisi ane melambangkan nafsu dengan Asmodeus, sang iblis nafsu.
Nafsu kali ini adalah serakah dan penuh ambisi, menghalalkan segala cara untuk kepentingannya sendiri sehingga melupakan kepentingan demokrasi.
Ingin menang pemilu? Suap saja KPU. Ingin mendapat kekuasaan? Asal ada uang. Berkuasalah semaumu. Zaman sekarang, orang dikasih duit, sujud dia.
Nah, :D setelah ane uraikan diatas, sudahkah anda paham dengan puisi ini? Ya, ane mengajak kalian semua untuk menjaga utuh Pancasila. Jangan ragu jangan takut menentang pelanggaran hukum.
siip, puisinya bagus gan.
BalasHapusKeren mas. Nyontek akh buat Tugas B.indo :v
BalasHapusNick puisi nya bagus sob,, ,
BalasHapusItu semua terjadi karena Pemimpin yang kurang tegas dan penegak hukum yang tidak taat.
BalasHapusLantas kutu yang dimaksud dalam puisi diatas adalah pengrusak ya hemp puisi kaidahnya dalem amat hehe
BalasHapusSalam pagi
Salut, produktif benar karya-karyanya
BalasHapus@NgeeHack,
BalasHapusTerima kasih :) nggak bagus juga kok, malah masih jauh dari puisi pada umumnya.
@Yandi Saputra Al Haidar,
BalasHapusBetulll sekali :D
Semoga calon pemimpin yang membaca puisi ini bisa memimpin negara agar bersatu padu.
mantap gan..
BalasHapus